Tren Plester Mulut Saat Tidur: Amankah untuk Pernapasan dan Kesehatan?
KALTENG.CO-Media sosial kembali diramaikan dengan sebuah tren kesehatan yang cukup ekstrem: menutup mulut dengan plester saat tidur (mouth taping). Metode ini diklaim dapat membantu tidur lebih nyenyak, mencegah kebiasaan tidur dengan mulut terbuka, bahkan mengatasi masalah dengkuran.
Namun, di balik klaim-klaim tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah tindakan ini aman secara medis?
Pentingnya Pernapasan Hidung Saat Tidur
Sebelum tergiur mencoba tren plester mulut, penting untuk memahami mekanisme pernapasan tubuh saat tidur. Meskipun kita terlelap, fungsi vital tubuh, termasuk bernapas, tetap berjalan otomatis. Idealnya, pernapasan terjadi secara refleks melalui hidung.
“Bernapas lewat hidung sebenarnya adalah cara yang paling ideal. Hidung punya sistem penyaring alami berupa rambut halus dan mukosa yang bisa menyaring debu, bakteri, hingga alergen sebelum udara masuk ke paru-paru,” jelas Dr. dr. Wiyono Hadi SpTHTBKL SubSp Rino (K).
Selain itu, udara yang masuk melalui hidung akan dilembapkan dan dihangatkan, menjadikannya lebih aman dan nyaman bagi saluran pernapasan. Sebaliknya, bernapas melalui mulut saat tidur dapat memicu sejumlah masalah seperti:
- Mulut cepat kering
- Tenggorokan terasa gatal saat bangun tidur
- Risiko gigi berlubang lebih tinggi akibat berkurangnya produksi air liur
Di sinilah muncul anggapan bahwa mouth taping bermanfaat, karena secara paksa mendorong seseorang untuk bernapas melalui hidung.
Kapan Plester Mulut Boleh Dilakukan?
Menurut Dr. Wiyono Hadi, mouth taping boleh saja dilakukan, bahkan bisa lebih baik, jika saluran napas hidung dalam kondisi baik. Artinya, tidak ada penyumbatan, tidak sedang pilek, dan tidak memiliki riwayat mendengkur parah yang disebabkan oleh masalah saluran napas hidung.
Namun, masalah serius akan timbul jika seseorang memaksakan menutup mulut dengan plester padahal hidungnya tidak dalam kondisi optimal atau memiliki gangguan. Kondisi-kondisi yang dimaksud antara lain:
- Rongga hidung sempit karena pilek atau kelainan anatomi
- Alergi yang menyebabkan hidung tersumbat
- Adanya polip hidung
“Kalau jalan napas dari hidung tidak cukup, lalu mulutnya ditutup paksa, pasti akan gelagapan cari udara. Bisa terjadi gagal napas. Ini sangat berisiko, terutama pada anak-anak atau lansia,” tegas Dr. Wiyono Hadi.
Periksa Dulu ke Dokter THT dan Perhatikan Jenis Plester
Mengingat potensi risiko yang ada, sangat disarankan untuk memeriksakan kondisi hidung dan saluran napas ke dokter THT sebelum mencoba mouth taping. Dokter dapat memastikan apakah Anda memiliki kondisi medis yang membuat tren ini berbahaya bagi Anda.
Selain itu, pemilihan jenis plester juga krusial. Hindari menggunakan plester sembarangan yang tidak didesain khusus untuk kulit, karena dapat menimbulkan iritasi, ruam, atau reaksi alergi pada area mulut. Carilah plester yang memang dikhususkan untuk mouth taping atau yang hypoallergenic.
Utamakan Keamanan, Bukan Sekadar Tren
Tren plester mulut saat tidur mungkin terdengar menjanjikan, namun keamanan harus menjadi prioritas utama. Bernapas melalui hidung memang ideal, tetapi memaksakan metode ini tanpa memahami kondisi saluran napas sendiri bisa berakibat fatal.
Selalu konsultasikan dengan profesional medis sebelum mencoba metode kesehatan baru, terutama yang berpotensi memengaruhi fungsi vital tubuh seperti pernapasan. Ingat, kesehatan bukan ajang coba-coba, apalagi jika menyangkut keselamatan. (*/tur)




