FBIM 2026 Hadirkan Lomba Manyipet, Budaya Tradisional Dayak Tetap Lestari

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Sebanyak 72 peserta dari 13 kabupaten dan satu kota di Kalimantan Tengah ambil bagian dalam lomba Manyipet (menyumpit) pada ajang Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026. Kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah tersebut berlangsung di Kompleks GOR Indoor Serbaguna, Jalan Tjilik Riwut Km 5 Kota Palangka Raya, Senin (18/5/2026).
Lomba Manyipet menjadi salah satu cabang budaya tradisional yang selalu menarik perhatian masyarakat dalam pelaksanaan FBIM. Para peserta tampil menggunakan kostum khas daerah masing-masing sehingga menambah semarak suasana perlombaan sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya Kalimantan Tengah.
Koordinator Lomba Manyipet, Anto Priyantono mengatakan, peserta yang mengikuti perlombaan berasal dari hampir seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Namun, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi satu-satunya daerah yang tidak mengirimkan atlet manyipet pada tahun ini. “Peserta yang mengikuti lomba manyipet tahun ini berasal dari 13 kabupaten dan satu kota, hanya Kabupaten Kotawaringin Timur yang tidak mengirimkan atletnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap regu terdiri dari tiga peserta yang terbagi dalam kategori putra dan putri. Dalam perlombaan tersebut, masing-masing peserta diberikan lima buah damek atau anak panah untuk ditembakkan ke sasaran menggunakan sipet (sumpit) dengan tujuan memperoleh nilai tertinggi.
Menurut Anto, seluruh peserta yang mengikuti lomba sebelumnya telah melalui proses seleksi dan kualifikasi di daerah masing-masing, sehingga yang tampil di FBIM merupakan perwakilan terbaik dari setiap kabupaten dan kota.
Sebelum perlombaan dimulai, panitia terlebih dahulu melakukan pemeriksaan terhadap peralatan manyipet yang digunakan peserta, mulai dari sipet hingga damek. Pemeriksaan dilakukan guna memastikan seluruh alat sesuai dengan ketentuan perlombaan yang telah ditetapkan.
“Untuk ukuran damek minimal 15 sentimeter dan maksimal 20 sentimeter. Sedangkan panjang sumpit minimal 1,5 meter dan maksimal 2 meter. Setelah dilakukan pengecekan, seluruh alat peserta dinyatakan memenuhi aturan,” jelasnya.
Anto berharap lomba manyipet tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya daerah, tetapi juga mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mencintai olahraga tradisional khas Dayak tersebut. “Harapannya manyipet semakin digemari generasi muda, sehingga budaya tradisional ini tetap lestari dan terus berkembang,” tutupnya. (bam)



