Harga Furniture Rotan Tak Sebanding dengan Harga Rotan Mentah, di Kalteng Petani hanya Menerima 7 Persen

“Kami bertujuan mengubah lanskap industri yang kerap kali mengeksploitasi petani dan artisan. Sementara permintaan pasar akan furnitur dan dekorasi rumah dari rotan terus meningkat, hanya sedikit sekali pemberitaan mengenai praktik eksploitasi dari pabrik dan brand kepada petani kecil dan artisan,” ujar Randi Julian Miranda, Pendiri dan Direktur Utama Sustainable Rattan Supplier (SARAS) lewat keterangan resminya.
Bekerjasama dengan para petani di dua desa di Barito Utara, Randi mengatakan bahwa pihaknya menyediakan ketelusuran dari hulu ke hilir bagi brand dan usaha di bidang furnitur, dekorasi rumah, dan industri interior.
“Sebagai orang Dayak, saya melalui SARAS ingin memastikan bahwa rotan yang merupakan komoditas penting bagi suku Dayak bisa memberikan dampak positif seacara ekonomi dan lingkungan. Bagi kami orang Dayak, rotan adalah kehidupan, karena rotan memainkan peranan yang sangat penting dalam tradisi dan kehidupan sehar-hari orang Dayak,” katanya lagi.
Ia melanjutkan, rotan dimanfaatkan untuk peralatan sehari-hari, bahan bangunan dan sebagai sumber penghasilan.
Sejak pertengahan abad ke-19 setelah Portugis membuka jalur perdagangan dunia dan sampai sekarang, rotan telah menjadi komoditas penting bagi suku Dayak. Ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada rotan.
“Kami bekerja dengan prinsip keadilan, menjaga kualitas, dan transparansi. Keadilan yang dimaksud di sini adalah memberikan harga yang pantas untuk memenuhi kebutuhan hidup para petani rotan,” ujar Randi.

“Selain itu, SARAS memberikan penguatan kapasitas bagi para petani terkait budidaya, pemanenan, dan pengolahan rotan sehingga dapat menjaga kualitas rotan sesuai permintaan pasar. Para mitra bisnis pun bisa menelusuri bahan baku rotan kami hingga ke kelompok petaninya, melihat keseluruhan proses SARAS, dan menjaga kelestarian lingkungan hutan di Kalimantan Tengah,” tutupnya. (*/tur)




