Lalu apa gejala serangan jantung dan henti jantung?
Menurut dr. Samuel, henti jantung sulit diketahui gejalanya, bahkan hampir tak ada gejala pendahuluan. Seseorang bisa langsung terjatuh dan tak bernapas.
“Henti jantung tak ada gejalanya, tiba-tiba saja terjatuh dan tak bernapas, tanpa gejala orangnya bisa baik-baik saja, tiba-tiba jatuh saja, tanpa apa-apa. Tanpa gejala langsung jatuh, tak bernapas. Ya mungkin bisa ada kejang atau ngorok sebentar karena jantung tiba-tiba berhenti,” jelasnya.
Sedangkan serangan jantung, gejala spesifiknya, pasien merasa tak enak di dada, rasa seperti tertekan benda berat, atau rasa panas di dada. Rasa tak enak itu bisa di tengah, kiri, kanan di punggung, bisa menjalar sampai ke rahang dan lengan.
“Yang sering di dada bagian tengah, rasa tak enak, biasanya disertai keringat dingin yang banyak sekali,” jelasnya.
Bergeser ke Usia Muda
Kondisi henti jantung dan serangan jantung, trennya lebih bergeser ke usia lebih muda saat ini. Yaitu umur 40-50 atau bahkan di bawah 40.
“Terbanyak 40-50, usia tua ada, dan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Karena usia 40-50 itu perempuan masih dikatakan terlindungi hormon estrogen. Masih menstruasi. Perempuan meningkat resikonya setelah menopause,” tambahnya.




