Jebakan “Harus Selalu Bahagia”: Kesalahan Fatal Orang Tua dalam Membesarkan Anak di Era Modern

KALTENG.CO-Kesehatan mental anak-anak dan remaja saat ini tengah menghadapi tantangan besar, meskipun kemajuan ilmu kedokteran dan psikologi sudah melaju jauh.
Namun ternyata, ada satu hal yang sering dilakukan orang tua demi kebaikan anak, justru berdampak sebaliknya pada perkembangan mental mereka.
Menurut laporan dari HuffPost, para ahli terapis anak menyebut bahwa, kesalahan terbesar orang tua dalam membesarkan anak adalah terlalu fokus mengejar kebahagiaan anak secara terus-menerus. Alih-alih mendatangkan ketenangan, pendekatan ini justru menekan anak dan membuat mereka kesulitan menghadapi emosi negatif yang wajar mereka alami.
Normalisasi Emosi: Anak Tidak Selalu Harus Bahagia
Pandangan bahwa masa kecil adalah masa paling bahagia dalam hidup, kerap membuat orang tua berpikir bahwa anak-anak seharusnya selalu gembira. Padahal, seperti dijelaskan Ariana Hoet, psikolog anak dari Nationwide Children’s Hospital, anak-anak juga bisa mengalami stres dan emosi negatif yang kuat layaknya orang dewasa.
“Orang tua harus membiasakan anak untuk mengenali dan mengekspresikan seluruh spektrum emosi, bukan hanya kebahagiaan,” ujar Hoet, dikutip dari HuffPost.
Jennifer Cruz, psikolog dari New York-Presbyterian/Columbia University Irving Medical Center, menambahkan bahwa melindungi anak dari emosi negatif justru menghambat perkembangan daya tahan mental mereka. “Emosi seperti marah, takut, atau sedih pun punya nilai penting bagi perkembangan anak,” jelasnya.
Obrolan Sehari-hari yang Bermakna: Fondasi Ketangguhan Emosional
Salah satu cara membangun ketangguhan emosional anak adalah melalui percakapan rutin yang bermakna. Baik saat makan malam, menjelang tidur, atau di perjalanan, momen-momen ini bisa dimanfaatkan orang tua untuk mengecek kondisi emosional anak dan membangun hubungan yang sehat.
“Hubungan orang tua dan anak yang sehat adalah faktor pelindung terhadap tekanan hidup,” kata Hoet. Percakapan terbuka memungkinkan anak merasa didengar dan divalidasi emosinya, membentuk fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan.
Fokus pada Kebiasaan Sehat, Bukan Pencapaian Semata
Alih-alih menuntut prestasi atau mengejar kesuksesan, para ahli menyarankan orang tua untuk menanamkan kebiasaan mental yang sehat. Misalnya, dengan mengajarkan rasa syukur. Menurut Cruz, praktik menghargai hal-hal kecil dapat mendorong kebahagiaan jangka panjang dan resiliensi.
Hal serupa juga disampaikan oleh Jen Hartstein, seorang psikoterapis. Menurutnya, anak-anak justru belajar lebih banyak saat gagal dan bangkit kembali. “Rasa bangga saat mereka bisa mengatasi kegagalan sangat penting bagi perkembangan diri,” jelasnya, menekankan bahwa kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar.




