BeritaFAMILYLife StyleMETROPOLIS

Jebakan “Harus Selalu Bahagia”: Kesalahan Fatal Orang Tua dalam Membesarkan Anak di Era Modern

Cintai Anak Tanpa Syarat: Melampaui Prestasi Akademis

Salah satu temuan menarik dari Jennifer Wallace, jurnalis dan penulis buku Never Enough, adalah banyak anak yang merasa nilai dirinya tergantung pada prestasi. Hal ini bisa jadi akibat tekanan yang tidak disadari dari orang tua — misalnya karena kalender anak dipenuhi les tambahan, atau percakapan sehari-hari selalu soal nilai dan tugas.

“Cinta tanpa syarat itu penting, tapi seringkali pesan yang diterima anak justru sebaliknya,” ungkap Wallace.

Ia menyarankan orang tua untuk mempertanyakan kembali empat hal sederhana: bagaimana mereka membelanjakan uang untuk anak, seperti apa jadwal harian anak, apa yang sering ditanyakan, dan hal apa yang paling sering diperdebatkan. Jawaban dari empat pertanyaan ini bisa menjadi cermin sikap kita terhadap anak, apakah kita memprioritaskan mereka sebagai individu atau sekadar pencapaian mereka.

Hindari Perbandingan dan Puji Sifat, Bukan Hasil

Perbandingan dengan saudara atau teman sebaya hanya akan menambah tekanan emosional pada anak. Terlebih di era media sosial, anak-anak sudah sangat terbiasa membandingkan diri mereka secara visual dan sosial. Maka, penting bagi orang tua untuk mengurangi kebiasaan membandingkan dan lebih banyak memberi penguatan pada karakter dan sifat positif anak.

Puji mereka bukan karena nilai sempurna, tapi karena empati, ketulusan, atau keuletannya. “Anak-anak perlu tahu bahwa mereka dihargai karena siapa mereka, bukan karena apa yang mereka capai,” tutur Wallace, menekankan pentingnya validasi diri yang intrinsik.

Tunjukkan Bahwa Mereka Berarti: Fondasi Kepercayaan Diri

Rasa “berarti” bagi orang tua adalah fondasi bagi kepercayaan diri anak. Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Morris Rosenberg dan terbukti menjadi salah satu penentu kebahagiaan jangka panjang.

Salah satu cara sederhana menunjukkan bahwa anak berharga adalah dengan memberi mereka tanggung jawab kecil di rumah. Ya, pekerjaan rumah bukan hukuman, tapi bentuk pengakuan bahwa kehadiran mereka penting dan dibutuhkan dalam keluarga. Ini menumbuhkan rasa kepemilikan dan kontribusi.

Terkadang, dalam usaha membesarkan anak sebaik mungkin, orang tua justru terjebak pada ambisi membentuk anak yang selalu bahagia, selalu unggul.

Padahal, kesehatan mental yang kuat dan kebahagiaan sejati justru tumbuh dari kemampuan menghadapi berbagai emosi dan tantangan hidup, serta pemahaman bahwa mereka dicintai dan dihargai apa adanya. (*/tur)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button