Palangka Raya Darurat Kesehatan Mental? Tiga Orang Akhiri Hidup dalam Waktu Berdekatan

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Rentetan kasus bunuh diri yang terjadi dalam waktu berdekatan di Kota Palangka Raya menjadi perhatian serius berbagai pihak. Dalam kurun sekitar sepekan, tiga orang ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri dengan latar belakang berbeda, mulai dari persoalan asmara, utang piutang hingga himpitan ekonomi.
Peristiwa pertama terjadi pada 14 Juni 2026 di kawasan Jalan G. Obos 24. Korban merupakan seorang mahasiswa keperawatan yang diduga mengakhiri hidup akibat persoalan asmara. Sepuluh hari kemudian, tepatnya 24 Juni 2026, seorang karyawan toko ritel modern ditemukan meninggal dunia di Jalan G. Obos 8 dan diduga mengalami tekanan akibat masalah utang piutang.
Sehari berselang, 25 Juni 2026 sekitar pukul 05.30 WIB, seorang pria yang telah berkeluarga ditemukan meninggal dunia di Jalan Pelatuk IV, Kelurahan Palangka. Dugaan sementara, korban mengalami tekanan berat akibat persoalan ekonomi yang berkepanjangan.
Menanggapi rentetan kejadian tersebut, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Dina Elizabeth Sinaga, Sp.KJ mengingatkan agar masyarakat tidak memandang kasus bunuh diri hanya sebagai peristiwa kriminal, tetapi juga sebagai persoalan kesehatan mental yang membutuhkan penanganan serius.
“Kejadian bunuh diri memerlukan perhatian khusus. Secara psikologis, ini merupakan salah satu bentuk kedaruratan psikiatrik yang biasanya muncul akibat akumulasi berbagai konflik, baik dari dalam diri maupun tekanan dari lingkungan,” ujar dr. Dina, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kesadaran terhadap kondisi kesehatan mentalnya sendiri. Sejumlah tanda yang perlu diwaspadai antara lain gangguan tidur berkepanjangan, pikiran yang terus-menerus dipenuhi kecemasan, perasaan tidak berdaya, merasa tidak berguna, hingga hilangnya harapan terhadap masa depan.
“Jika seseorang mulai mengalami gejala-gejala tersebut, jangan menunggu kondisinya semakin berat. Segera berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog agar bisa mendapatkan pendampingan dan penanganan sejak dini,” jelasnya.
Sebagai upaya pencegahan, Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei telah mengoptimalkan layanan Hotline Bunuh Diri “Suara Jiwa” yang dapat diakses masyarakat sebagai sarana konsultasi dan pendampingan ketika menghadapi tekanan psikologis.
“Melalui layanan Hotline Suara Jiwa, masyarakat dapat memperoleh bantuan awal dari tenaga profesional yang siap memberikan pendampingan psikologis, arahan klinis, hingga rekomendasi penanganan medis apabila diperlukan,” katanya.
Dr. Dina juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu mencari pertolongan ketika menghadapi tekanan hidup. Menurutnya, dukungan keluarga, sahabat, tokoh agama, maupun tenaga kesehatan menjadi faktor penting untuk mencegah seseorang mengambil keputusan yang berisiko mengakhiri hidup.
“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Tidak ada salahnya meminta bantuan ketika merasa tidak sanggup menghadapi masalah seorang diri. Semakin cepat seseorang mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk melewati masa-masa sulit tersebut,” tutupnya. (oiq)



