Rupiah Bisa Tersungkur dan Bunga KPR, Imbas Taper Tantrum Terjadi di AS

Rupiah Bisa Tersungkur dan Bunga KPR

JAKARTA,Kalteng.coKementerian Keuangan saat ini sedang menyoroti risiko taper tantrum dari perekonomian Amerika Serikat terhadap wacana kenaikan suku bunga bank sentral AS.

Sebab, hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, kebijakan pengetatan bunga acuan dari AS memicu investor untuk menghindari aset yang berisiko tinggi seperti pasar modal dan surat utang di negara berkembang.

Bhima bercerita taper tantrum atau kejutan di pasar pernah terjadi tahun 2013 lalu yang membuat arus deras modal asing keluar atau terjadi capital outflow.

Indonesia yang masuk sebagai fragile five atau 5 negara yang rentan terhadap fluktuasi global mengalami kemrosotan nilai tukar Rupiah yang dalam.

Baca Juga:  Masjid Terapung Dibangun di Tanah Bumbu Kalsel, Ikon Wisata Religi

“Pada Mei 2013 nilai tukar Rupiah ada di kisaran 9.700 per dollar AS, kemudian melemah hingga 14.700 per dollar AS September 2015. Pelemahan Rupiah sangat dalam bahkan tembus 51,5 persen pada periode tersebut,” ujarnya, Selasa (8/6/2021).

Bhima menuturkan, jika taper tantrum kembali terjadi pada 2022, maka bukan tidak mungkin Rupiah melemah hingga 17.000 dollar AS. Sejauh ini Bank Indonesia berharap pada cadangan devisa yang di pupuk oleh penerbitan utang.

“Tentu ini sangat riskan menghadapi guncangan normalisasi kebijakan Fed,” imbuhnya.

Pelemahan Kurs Membuat Beban Utang Meningkat

Bhima melanjutkan, dampak lainnya dari taper tantrum adalah risiko merosotnya rating utang luar negeri Indonesia karena besarnya tekanan pada sisi kemampuan bayar utang berbentuk valas.

Baca Juga:  Sepanjang 2021, Bencana Alam Banjir Terbanyak

Pelemahan kurs membuat beban utang meningkat, tapi tidak di sertai dengan naiknya minat investor global membeli surat utang negara berkembang.

“Pemerintah pun terdesak untuk naikkan bunga utang yang baru di terbitkan untuk menjaga agar kepemilikan asing tidak merosot tajam,” tuturnya.

Bhima menambahkan, efek kenaikan suku bunga the Fed bahkan di perkirakan akan di rasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dalam bentuk penyesuaian bunga kredit.

Bank Indonesia juga akan melakukan kenaikan bunga acuan juga mengikuti langkah the Fed.

“Pemilik KPR dan pinjaman bank jadi semakin mahal. Kalau ada yang mau ambil KPR sekarang momen yang pas, sebelum ada kenaikan suku bunga the Fed,” pungkasnya.(tur)