BeritaUtama

Semangat Juang dari Bangunan Usang

Jeritan dari Rakumpit, Kecamatan Terjauh di Palangka Raya (3)

Image Image

Mirisnya wajah pendidikan di daerah nan jauh dari kota sudah tak mengagetkan. Bangunan sekolah rusak. Akses menuju sekolah dan fasilitas belajar mengajar ala kadarnya. Hanya dipandang sebelah mata oleh mereka yang tak ada di sana.

AGUS PRAMONO, Palangka Raya

AYO cepat lari, sudah telat kamu,” seru Marsi kepada dua siswa yang berjalan pelan dari samping kantin menuju ruang kelas. Kondisi tanah becek. Hujan yang turun sejak pagi buta baru saja reda. Jam pelajaran dimulai pukul 07.30 WIB.

Di ruang kelas XII, tampak guru Agustina berdiri menghadap siswa-siswinya yang sudah siap dengan buku pelajaran. Agustina berjalan menyusuri lorong baris dengan langkah pelan. Sesekali singgah di meja siswa, mengecek pekerjaan rumah. Saat itu lantai ruangan tergenang air. Atap yang bocor dan kondisi bangunan yang jauh lebih rendah dari tanah sekitar, membuat air mudah masuk ke ruang kelas.

Pemandangan serupa juga terlihat di ruang kelas X dan XI. Mirisnya lagi, ruangan berukuran 10×14 meter itu disekat menjadi dua bagian. Untuk jurusan IPA dan IPS.

Guru Yakobus yang menemani penulis waktu itu mengatakan, di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 9 Palangka Raya hanya ada tiga ruang kelas dan satu ruang guru yang sekaligus dijadikan perpustakaan. Karena itu, pihak sekolah terpaksa menyekat ruangan untuk kelas X dan XI. Sementara untuk ruang kelas XII hanya satu, lantaran saat itu masih belum ada pilihan jurusan. “Daripada ada yang panas-panasan di luar, ya terpaksa kami buat sekat,” ucapnya.

Pihak sekolah memang memutuskan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka beberapa bulan terakhir. Kecamatan Rakumpit daerah zona hijau Covid-19. Pembelajaran tatap muka tetap digelar dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat. Tidak bisa dilakukan pembelajaran daring karena terkendala jaringan internet. Hanya ada beberapa titik lokasi saja di Kelurahan Mungku Baru yang menyediakan fasilitas itu. “Ujian kemarin, semua sekolah sistem online, tapi kami offline, karena tidak didukung itu (jaringan internet, red),” ungkapnya.

Jumlah siswa SMAN 9 Palangka Raya tak banyak. Kelas X berjumlah 22 siswa. Kelas XI 14 siswa. Sementara kelas XII ada 16 siswa. Guru berstatus PNS berjumlah 4 orang. Guru tidak tetap ada 7 orang. Pegawai tidak tetap 2 orang.

Kepala SMAN 9 Palangka Raya Tatie yang sudah empat tahun mengabdi di sekolah itu telah berulang kali menyalurkan aspirasi demi kepentingan peserta didik. Usulan jangka pendek adalah merehab atap bangunan yang bocor. Membenahi struktur bangunan agar air tidak merembes masuk ke dalam ruangan. “Berulang kali sudah kami usulkan agar bangunan diperbaiki, tapi ya…..,” ucapnya sedih.

Ibu dari tiga anak ini berharap keinginan itu bisa diwujudkan. Ia merasa kasihan dengan peserta didik yang harus berteman dengan genangan air saat mengikuti pembelajaran. Belum lagi saat berangkat atau pulang sekolah. Beberapa siswa harus menyeberang sungai. Mengarungi sungai dengan perahu untuk bisa sampai ke sekolah.

Namun, guru berusia 49 tahun ini sangat mengapresiasi antusias anak didiknya untuk mengikuti pembelajaran di sekolah. Begitu juga rekan-rekan guru yang semangatnya tak pernah luntur. Terutama bagi guru tidak tetap, meski digaji seadanya Baca: https://kalteng.co/2021/03/24/kantor-kelurahan-mubazir/

SMAN 9 Palangka Raya berada satu kompleks dengan SMP dan SD. Namun, untuk saat ini mereka melaksanakan pembelajaran daring. Penulis pun mampir ke TK Negeri Pembina Rakumpit yang jaraknya hanya selemparan batu. Ada satu ruang kelas dan satu ruang kantor. Kondisi bangunan juga tampak usang. Lantai terkelupas. Ruang kantor kosong melompong, tak difungsikan. Toilet rusak.  

Baca Juga:  Minum Obat Kuat Lalu Bercinta, Pria Tewas Terkapar

Permainan anak-anak seperti jungkat-jungkit dan ayunan berada di depan sekolah. Ibu-ibu duduk di dekat arena bermain. Mengawasi anaknya. Hanya ada 14 anak yang menimba ilmu, dibimbing oleh dua orang guru. “Ya beginilah kondisinya,” ucap Kepala TK Pembina Rakumpit, Rosmida.

Diawali dengan menghela napas panjang, perempuan paruh baya ini menyebut, selama bangunan TK berdiri, tak ada lagi rehabilitasi. Jujur, katanya, lingkungan TK masih jauh dari ramah anak. Tidak ada ada pagar untuk batas aktivitas masyarakat umum dan anak-anak. Kondisi lantai ruangan pun sangat membahayakan anak didik.

Dana operasional Rp4,2 juta per semester tak cukup untuk biaya renovasi. Karena itu, guru yang sudah 33 tahun menetap dan mengajar di sana itu berharap adanya uluran tangan pemerintah maupun pihak lain agar bisa membantu memperbaiki fasilitas belajar mengajar di TK itu. Apalagi Rakumpit masih merupakan bagian dari Kota Palangka Raya.

“Pemerintah harus memberikan perhatian,” ungkapnya seraya menyebut di tengah pandemi Covid-19 ini pembelajaran tatap muka dilakukan dua kali dalam sepekan. Baca: https://kalteng.co/2021/03/25/nihil-ambulans-obat-obatan-sering-telat-datang/

Di tengah kondisi bangunan yang usang, kebersamaan, loyalitas, dan semangat juang menjadi penopang agar tidak tumbang. Kemudian penulis berbincang dengan Tina, guru tidak tetap yang mengabdi di SMAN 9 Palangka Raya sejak September 2019.

Di kursi panjang yang ada di kantin sekolah, pemilik nama lengkap Agustina ini bercerita panjang lebar. Penulis penasaran apa yang membuatnya bertahan dengan kondisi seperti itu. Dengan tegas perempuan berusia 24 tahun itu menyebut, kecintaan dan keinginan kuat untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. “Aku suka dan cinta akan pekerjaan ini,” katanya.

Perjuangan Tina sebagai pendidik memang tak mudah. Apalagi dengan kondisi ruangan yang ala kadarnya. Bebannya makin berat karena honornya rendah, yakni Rp1 juta. Padahal, setiap pekan ia harus pulang pergi Kota Palangka Raya. Rata-rata menghabiskan uang Rp200 ribu untuk biaya transpor. Empat kali dalam sebulan.

Artinya Rp800ribu hanya untuk transportasi dan makan. Jika dikalkulasi, hanya tersisa Rp200 ribu dari gajinya. Untung, tidak ada biaya untuk menyewa tempat tinggal. Karena para guru SMAN 9 Palangka Raya menginap gratis di perumahan guru SMP, lantaran sekolahnya belum ada fasilitas perumahan guru.

Untuk mengatur agar keuangannya cukup, Tina selalu membawa bekal dari rumah. Setiap hari Minggu berangkat ke Mungku Baru, biasanya ia membawa serta ikan kering, sarden, dan telur. Lauk ayam sesekali jika ada rezeki lebih. Jadi, keperluan makan dipastikan aman sampai hari Rabu ia kembali ke Palangka Raya.

Siswa-siswi tak kalah semangatnya dari para guru. Pentiana, Serliyana, Seprilina, Windi, dan Imelda setiap hari harus menyeberangi Sungai Rakumpit menggunakan rakit kayu. Begitu juga Anggita, Andre, dan Dinda yang harus naik kelotok menyusuri Sungai Rungan untuk ke sekolah.

“Semangat anak didik saya juga menjadi penyemangat saya untuk terus mengajar di sini,” tambah guru mata pelajaran matematika lulusan Universitas Palangka Raya tahun 2018 ini.

Bagaimana respons orang tua? Tina menyebut, awal-awal dirinya mengajar, orang tua memintanya agar berhenti. Perjalanan jauh bagi seorang perempuan dianggap sangat berisiko. Namun, Tina menolak secara halus. Ia mencoba meyakinkan orang tuanya. “Sekarang orang tua tidak pernah lagi memaksa saya untuk berhenti mengajar atau menyarankan mencari sekolah lain yang lebih dekat,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara itu sambil menyeka bulir keringat di dahinya.

Penulis saat itu juga mengobrol sosok guru luar biasa lainnya. Yaitu Evri, guru tidak tetap yang mengajar  di TK Negeri Pembina Rakumpit. Guru berusia 38 tahun itu mendapat honor tergantung dari jumlah anak didik. Tahun ajaran 2020-2021, hanya ada 14 anak didik. Tiap bulannya Evri hanya menerima uang Rp15 ribu per anak didik.

Ia sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa sejak tahun 2005 lalu. Lulusan Diploma II PGTK ini berharap pemerintah lebih memperhatikan guru non-PNS, terutama yang mengajar di lembaga pendidikan yang jauh dari kota. “Harapan saya, bisa dipermudah menjadi PNS,” ungkapnya. (ce/bersambung)

Image Image Image Image Image Image Image

Related Articles

Back to top button