BeritaKAWAT DUNIAMETROPOLIS

Sering Dikira Lelucon Vulgar, Festival Kanamara Jepang Ternyata Suarakan Hak LGBTQ+

KALTENG.CO-Sekilas, bagi orang awam atau wisatawan asing yang baru pertama kali menyaksikannya, festival ini mungkin tampak seperti sebuah lelucon massal.

Bagaimana tidak? Anda akan disuguhi pemandangan patung penis raksasa yang diarak di jalanan, permen-permen berbentuk vulgar yang dijajakan di pinggir jalan, hingga berbagai parade unik yang kerap memancing tawa geli para turis.

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Namun, Kanamara Festival (Kanamara Matsuri) yang berlangsung di Kota Kawasaki, Jepang, sebenarnya memiliki latar belakang sejarah yang sangat serius. Di balik tampilannya yang dinilai nyeleneh dan eksentrik, festival ini justru lahir dari kepedulian mendalam terhadap isu kesehatan seksual, hak asasi manusia, dan pesan inklusivitas yang kuat.

Melansir pemberitaan dari The Japan Times, festival legendaris ini rutin digelar setiap hari Minggu pertama di bulan April, berpusat di Kuil Kanayama, Kawasaki. Setiap tahunnya, acara ini sukses menyedot perhatian dan menarik sekitar 40.000 hingga 50.000 pengunjung, baik warga lokal maupun wisatawan mancanegara.

Memahami “Elizabeth”, Ikon Merah Muda yang Menembus Batas

Salah satu daya tarik utama yang paling dinantikan dalam festival ini adalah jatuhnya pandangan pada mikoshi, alias kuil portabel berbentuk falus (alat kelamin pria) yang diarak oleh tandu manusia.

Di antara beberapa mikoshi yang diarak, ada satu yang paling mencolok dan terkenal: sebuah patung falus raksasa berwarna merah muda dengan tinggi mencapai sekitar dua meter. Menariknya, kuil portabel ini memiliki nama tersendiri, yaitu Elizabeth.

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Bagi banyak turis asing, pemandangan ini mungkin terasa absurd atau sekadar objek foto yang menggelitik. Namun, pendeta wanita Kuil Kanayama, Hisae Machida, menegaskan bahwa ada makna filosofis dan historis yang sangat dalam di balik perayaan tersebut.

Berakar dari Era Edo: Tempat Perlindungan Pekerja Seks

Sejarah Kanamara Festival sebenarnya dapat ditarik mundur hingga ke Era Edo (1603–1867). Pada masa itu, kawasan penginapan di sekitar kuil menjadi tempat beraktivitas para pekerja seks komersial.

Para pekerja seks ini kerap datang ke Kuil Kanayama untuk berdoa dan memohon perlindungan kepada dewa agar terhindar dari Penyakit Menular Seksual (PMS). Sementara bagi mereka yang sudah telanjur terinfeksi, kuil ini menjadi tempat suci untuk memohon kesembuhan dan kekuatan.

Transformasi Zaman: Dari tempat ritual sunyi para marginal di Era Edo, kuil ini bertransformasi menjadi ruang edukasi publik yang megah di era modern.

Kebangkitan di Tahun 1977 dan Respons Terhadap Epidemi AIDS

Seiring berjalannya waktu, tradisi festival ini sempat meredup dan terlupakan. Hingga akhirnya pada tahun 1977, ayah dari Machida yang bernama Hirohiko Nakamura, memutuskan untuk menghidupkan kembali festival ini dengan membawa misi kemanusiaan yang jauh lebih luas.

Nakamura bukanlah pemuka agama biasa; ia juga merupakan seorang dokter hewan yang memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Ketika epidemi HIV/AIDS mulai merebak dan menjadi perhatian global pada dekade 1980-an, Nakamura mengkhawatirkan satu hal: stigma negatif dan diskriminasi masif terhadap kelompok rentan atau komunitas tertentu.

Dari kekhawatiran itulah, Kanamara Festival diarahkan sebagai wadah terbuka untuk:

  1. Edukasi Kesehatan: Menyebarkan informasi valid mengenai pencegahan penyakit menular seksual tanpa tabu.

  2. Penerimaan Sosial: Merangkul kelompok-kelompok yang selama ini dikucilkan oleh masyarakat.

Kehadiran Mikoshi Elizabeth yang ikonik itu pun bukan sebuah kebetulan. Patung merah muda tersebut merupakan bentuk donasi langsung dari kelompok drag queen setempat untuk membantu menarik perhatian publik sekaligus menyampaikan pesan keterbukaan.

Menyuarakan Hak LGBTQ+ dan Dampak Ekonomi bagi Warga

Kini, Kanamara Festival telah berkembang menjadi simbol gerakan progresif di Jepang. Di area festival, bendera pelangi lambang komunitas LGBTQ+ berkibar secara terbuka. Pengelola kuil dan sukarelawan juga aktif membagikan pamflet yang berisi pesan-pesan hak asasi manusia, dukungan terhadap keberagaman, dan inklusivitas sosial.

Di sisi lain, festival ini juga tidak luput dari dinamika lokal. Meski beberapa warga sempat mengeluhkan kondisi lingkungan yang terlampau padat akibat membeludaknya turis asing, mayoritas masyarakat lokal justru menyambut baik dampak ekonomi yang dihasilkan. Festival tahunan ini terbukti sukses menghidupkan roda bisnis, mulai dari penginapan, restoran, hingga pelaku UMKM di sekitar wilayah Kawasaki.

Pada akhirnya, seperti yang diungkapkan oleh Hisae Machida, Kanamara Festival bukan sekadar tentang membuat orang tertawa karena melihat hal-hal yang berbau vulgar.

Inti dari festival ini adalah menciptakan sebuah ruang aman di mana semua orang—tanpa memandang latar belakang dan orientasi mereka—bisa merasa diterima, melepaskan beban pikiran, dan pulang dengan perasaan yang sedikit lebih bahagia. (*/tur)

https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co         https://kalteng.co       https://kalteng.co     https://kalteng.co    

Related Articles

Back to top button