BeritaFAMILYLife StyleMETROPOLIS

Sering Merasa Lelah dengan Teman yang Tampak”Manis”? Cek 7 Tanda Manipulasi Terselubung Ini

KALTENG.CO-Dalam interaksi sosial sehari-hari, kita sering kali terpaku pada pepatah lama bahwa kesan pertama adalah segalanya. Senyum yang merekah, tutur kata yang halus, dan sikap yang selalu setuju sering kali membuat kita langsung menyimpulkan bahwa seseorang adalah “orang baik”.

Namun, psikologi modern memberikan peringatan penting: keramahan hanyalah sebuah perilaku sosial, bukan cermin otomatis dari integritas seseorang.

Ada fenomena yang disebut sebagai surface kindness atau kebaikan di permukaan. Ini adalah kondisi di mana seseorang menggunakan keramahan sebagai topeng untuk menyembunyikan niat yang kurang tulus atau pola perilaku yang manipulatif. Mereka tidak terlihat kasar, namun kehadiran mereka perlahan terasa melelahkan atau merugikan.

Dilansir dari Geediting, berikut adalah tujuh tanda psikologis yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin bukan orang baik, meskipun mereka tampak sangat menyenangkan di awal perkenalan.


1. Mereka Hanya Ramah Saat Membutuhkan Sesuatu

Pernahkah Anda mengenal seseorang yang tiba-tiba menjadi orang paling perhatian saat mereka sedang dalam kesulitan? Orang dengan kebaikan semu biasanya memiliki “saklar” pada keramahannya. Mereka sangat manis ketika ada tujuan yang ingin dicapai, namun akan menjadi dingin atau tidak peduli saat Anda tidak lagi memiliki manfaat bagi mereka.

2. Gemar Bergosip Sambil Berpura-pura Prihatin

Ini adalah tanda yang paling halus. Mereka mungkin menceritakan rahasia atau keburukan orang lain kepada Anda dengan nada bicara yang seolah-olah “khawatir” atau “kasihan”. Jika mereka bisa membicarakan orang lain di belakang dengan cara seperti itu, besar kemungkinan mereka juga melakukan hal yang sama terhadap Anda saat Anda tidak ada.

3. Sering Melakukan “Backhanded Compliments”

Pujian yang menghina adalah senjata utama orang yang tampak ramah namun memiliki niat terselubung. Contohnya: “Wah, kamu berani ya pakai baju itu, kalau aku sih pasti nggak pede karena badanku nggak sebagus kamu.” Kalimatnya terdengar seperti pujian, namun tujuannya adalah untuk menjatuhkan mental atau menyindir Anda secara halus.

4. Kurangnya Empati di Balik Kata-kata Manis

Mereka mungkin tahu apa yang harus dikatakan (validasi verbal), tetapi mereka tidak menunjukkan tindakan yang nyata. Saat Anda sedang dalam kesulitan, mereka memberikan kata-kata manis namun dengan cepat mengalihkan pembicaraan kembali ke diri mereka sendiri. Tidak ada keterlibatan emosional yang tulus dalam hubungan tersebut.

5. Menghargai Orang Hanya Berdasarkan Status

Perhatikan bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang tidak bisa memberikan keuntungan bagi mereka—seperti pelayan restoran atau petugas kebersihan. Seseorang yang benar-benar baik akan bersikap konsisten kepada siapa saja. Jika mereka hanya ramah kepada atasan atau orang berpengaruh, itu adalah tanda social climbing, bukan kebaikan hati.

6. Sering Bermain Peran Sebagai “Korban” (Playing Victim)

Meskipun mereka terlihat ramah, orang-orang ini jarang mau mengakui kesalahan. Jika terjadi konflik, mereka akan memutarbalikkan fakta sehingga mereka terlihat sebagai pihak yang disakiti. Keramahan mereka digunakan sebagai alat untuk memenangkan simpati publik agar orang lain tidak mencurigai sisi negatif mereka.

7. Mereka Tidak Menghargai Batasan (Boundaries)

Orang yang tulus akan menghormati privasi dan batasan Anda. Sebaliknya, orang yang “tampak baik” sering kali melanggar batasan Anda dengan dalih “ingin membantu” atau “terlalu peduli”. Mereka mungkin mencampuri urusan pribadi Anda terlalu dalam tanpa diminta, yang sebenarnya merupakan bentuk kontrol terselubung.


Mengetahui tanda-tanda ini bukan berarti kita harus menjadi orang yang sinis atau penuh curiga. Namun, memahami psikologi di balik surface kindness membantu kita untuk lebih selektif dalam memberikan kepercayaan. Kebaikan yang sejati bersifat konsisten, tulus, dan tidak menuntut pamrih.

Ingatlah, karakter seseorang terlihat bukan dari cara mereka tersenyum di pertemuan pertama, melainkan dari bagaimana mereka bersikap saat konflik terjadi dan saat tidak ada hal yang bisa mereka ambil dari Anda. (*/tur)

Related Articles

Back to top button