Visi Misi Prof. Bhayu Berangkat dari Kebutuhan Riil Setiap Fakultas

PALANGKA RAYA, kalteng.co – Mengusung visi “Borneo Impact and Global Recognition”, bakal calon Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030, Prof. Bhayu Rhama, S.T., MBA., Ph.D., menegaskan komitmennya membawa UPR menjadi perguruan tinggi negeri berbasis falsafah Huma Betang, yang memiliki daya saing global sekaligus memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan, khususnya di Kalimantan Tengah.
“Kita harus mempertahankan dan meningkatkan fondasi yang telah dibangun para pemimpin sebelumnya. Setiap periode memiliki tantangan yang berbeda, sehingga UPR harus terus berkembang agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Prof. Bhayu Rhama, saat memaparkan visi, misi, dan program kerja dalam tahapan penyampaian visi-misi yang digelar di Aula Rahan UPR, Rabu (8/7/2026).
Menurut Prof Bhayu yang juga Guru Besar bidang Pariwisata tersebut, terdapat enam tantangan utama yang masih dihadapi UPR, yakni keterbatasan anggaran, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang belum memadai, daya saing riset global yang masih rendah, jumlah guru besar yang masih terbatas, serta kemitraan strategis yang perlu diimplementasikan secara lebih nyata.
Selain tantangan secara umum, ia mengungkapkan hasil pemetaan yang dilakukan di delapan fakultas UPR. Berbagai persoalan mulai dari minimnya peminat sejumlah program studi, kebutuhan peningkatan akreditasi, keterbatasan laboratorium, ruang kuliah, hingga kebutuhan peningkatan jumlah dosen bergelar doktor dan guru besar menjadi perhatian dalam penyusunan program kerja.
“Dari hasil dialog dengan seluruh fakultas, kami menemukan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Karena itu, program yang kami susun berangkat dari kebutuhan riil di setiap fakultas,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bhayu menawarkan empat misi utama, yakni penguatan pendidikan, peningkatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola digital yang terintegrasi melalui konsep one data dan single data guna mewujudkan good university governance.
Empat misi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam delapan program prioritas selama periode 2026–2030. Program tersebut meliputi reformasi tata kelola berbasis kinerja, pendidikan dan pengabdian berbasis kearifan lokal berdaya saing global, penguatan penjaminan mutu dan infrastruktur akademik, transformasi digital menuju smart campus, pengembangan riset unggulan berbasis kolaborasi industri, pembinaan mahasiswa unggul dan berkarakter, penguatan kemitraan strategis termasuk skema carbon trading untuk mendukung kemandirian menuju PTN-BH, hingga pembangunan kampus yang inklusif, berkelanjutan, dan bereputasi global.
Ia menegaskan seluruh program yang disusun telah diselaraskan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, indikator kinerja utama perguruan tinggi, serta program pembangunan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
“Kami ingin UPR tidak hanya dikenal secara global, tetapi juga benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat Kalimantan Tengah. Itulah makna dari Borneo Impact and Global Recognition,” tegasnya.
Pada sesi tanya jawab, Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Palangka Raya (ILUNI UPR), Drs. H. Nuryakin, menyoroti strategi pendanaan non-Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai belum banyak diuraikan dalam pemaparan visi dan misi.
Ia juga mempertanyakan bagaimana pelibatan alumni dalam mendukung pengembangan UPR, termasuk membuka akses pendidikan bagi calon mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu di berbagai daerah di Kalimantan Tengah.
Menanggapi hal tersebut, Bhayu Rama menjelaskan salah satu program prioritas yang diusungnya adalah pengembangan skema carbon trading sebagai sumber pendanaan alternatif bagi universitas. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian keuangan UPR di luar penerimaan UKT.
“Pendanaan non-UKT itu kami punya program prioritas, yaitu carbon trading. Kalau tidak kita mulai sekarang, kapan lagi kita akan memulainya. Selain itu, kami juga akan memperkuat kemitraan dengan sektor swasta, termasuk perusahaan-perusahaan di Kalimantan Tengah, untuk mendorong hilirisasi industri yang dapat memberikan kontribusi terhadap pendanaan universitas,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan komitmennya untuk memperkuat hubungan dengan ILUNI UPR melalui penyediaan fasilitas khusus bagi organisasi alumni. Menurutnya, keberadaan sekretariat alumni akan mempermudah komunikasi sekaligus mempererat kolaborasi antara universitas dan para lulusan.
“Saya akan menyediakan gedung untuk ILUNI. Namun, harapan saya, para alumni nantinya juga dapat menjadi orang tua asuh bagi mahasiswa yang mengalami keterbatasan ekonomi. Saya yakin satu alumni membantu satu mahasiswa akan memberikan dampak yang sangat besar bagi masa depan pendidikan di Kalimantan Tengah,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta.
Selain itu, Bhayu menyatakan siap mendukung program pemerintah daerah seperti Satu Sarjana Satu Rumah melalui penguatan kerja sama beasiswa dengan pemerintah kabupaten dan kota, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR), serta kontribusi para alumni.
“Dengan dukungan beasiswa dari pemerintah daerah, CSR, alumni, dan jika program carbon trading berjalan dengan baik, saya optimistis UPR akan memiliki kemampuan lebih besar untuk membantu mahasiswa-mahasiswa yang kurang mampu agar tetap dapat mengenyam pendidikan tinggi,” terangnya.
Di akhir penyampaiannya, Bhayu menekankan pentingnya kepemimpinan yang terbuka dan komunikatif. Ia menyatakan siap menerima berbagai masukan dari seluruh sivitas akademika sebagai bagian dari upaya membangun UPR secara kolaboratif.
“Saya percaya tantangan tidak bisa diselesaikan sendiri. Kita harus berkolaborasi agar Universitas Palangka Raya semakin maju dan mampu menyejahterakan masyarakat melalui pendidikan,” pungkasnya. (bam/aza)



