Sawit Ikut Menopang Pertumbuhan Ekonomi

Konsisten Sumbang Devisa Meski Pandemi
sawit
MEMPERLIHATKAN : Salah satu karyawan PT Citra Putra Kebun Asri ketika menunjukan buah sawit yang bagus dan akan dibeli perusahaan. (foto : Azuba/kalteng.co)

PALANGKA RAYA, kalteng.co –  Pemulihan ekonomi nasional terus berlanjut setelah semakin membaiknya harga dan permintaan global, khususnya barang-barang komoditas Indonesia pada Agustus 2021, salah satunya Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas dari sektor pertanian yang memiliki daya tahan dan yang ikut serta menopang pertumbuhan ekonomi di Q3 tahun 2021.

Industri kelapa sawit juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung bahkan konsistensi menyumbang devisa di Indonesia, meski di tengah pandemi Covid-19.

Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Tofan Mahdi, mengatakan, sawit bagi perekonomian Indonesia, di tengah pandemi Covid 19, Indonesia tetap mencatat surplus neraca perdagangan, dan total ekspor yang paling besar adalah non migas, dengan kontributor terbesarnya merupakan ekspor minyak sawit.  

Berita Terkait……..Menko Airlangga: Roadmap Hilirisasi Produk Kelapa Sawit Jadikan Indonesia Price Center CPO Global

Baca Juga:  Yuk Cari Kebutuhan di SPEKTRA FAIR

“Tahun 2020 kemarin devisa ekspor sawit mencapai US$ 22,9 miliar. Akhir Tahun ini diperkirakan dengan harga US$ 1200-1400 per ton sumbangan devisa ekspor minyak sawit bisa mencapai US$30 miliar, besar sekali ini hampir mencapai 400 triliun,” ucapnya.

Ia melanjutkan, kontribusi sawit lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi adalah, dengan luas kebun sawit 16,3 juta hektare, serapan sektor petaniannya sebesar 4,4 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Untuk serapan tenaga kerja, dari 2,3 juta usaha petani memperkerjakan 4,4 juta orang.

“Dalam bidang ketahanan energi, ada penghematan devisa US$ 3,54 atau Rp51,73 triliun melalui mandatori B20. Untuk program mendatori B30 diperkirakan menghemat sebesar US$ 8 milar atau sekitar Rp116 trilun,” sebutnya.

“Total nilai ekspor Tahun 2020 sebesar USD 22,97 milliar lebih tinggi dari tahun 2019 yaitu sebesar US$ 20,22 milliar. Minyak sawit tidak hanya menjadi bahan baku untuk food dan bahan baku biofuel tetapi juga bisa menjadi bahan baku energi,” imbuhnya.

Baca Juga:  6,21 Ribu Orang Pengangguran Karena Covid-19

Ia menegaskan, ketika 2020 pandemi Covid 19 masuk di Indonesia, Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi, tetapi kontraksi pertumbuhan ekonomi tidak setajam negara tetangga, sebab ada industri sawit yang ikut menopang pertumbuhan ekonomi dalam bentuk devisa.

“Di tahun 2021, kita bersyukur pemulihan ekonomi di Indonesia lebih cepat. Bahwa memang benar ada sektor-sektor yang berjuang keras untuk mensiasati pandemi, di tengah pendemi masih memiliki sektor kelapa sawit. Kelapa sawit masih menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar nasional dan tulang punggung perekonomian nasional,” akunya.

“Dan sangat di luar prediksi harga CPO tren harga CPO sejak semester kedua Tahun 2020 sampai hari ini semakin naik, ini menjadi berkah, bukan saja bagi pelaku usaha kelapa sawit tapi juga bagi pemerintah dan bagi petani kelapa sawit,” ujarnya.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *