The Beginning After the End Mengecewakan? Animasi Buruk Picu Petisi Penggemar, Bayang-Bayang Solo Leveling Mengintai
KALTENG.CO-Bagi para penggemar anime, nama Solo Leveling tentu sudah tidak asing lagi. Kesuksesan anime adaptasi manhwa ini begitu fenomenal, berhasil memikat bahkan mereka yang sebelumnya tidak tertarik dengan dunia anime.
Aksi yang epik, visual yang menawan, dan perkembangan karakter utama yang dramatis menjadikan Solo Leveling sebagai tolok ukur baru bagi adaptasi manhwa ke format anime.
Maka dari itu, antusiasme tinggi menyelimuti para penggemar ketika adaptasi anime dari webcomic populer The Beginning After the End diumumkan. Dikenal dengan reputasi yang solid dan telah meraih lebih dari 1,5 miliar tayangan secara global, ekspektasi terhadap anime ini sangatlah besar.
Namun sayang, alih-alih mengikuti jejak Solo Leveling, adaptasi anime The Beginning After the End justru menuai kekecewaan mendalam dari para penonton, hingga muncul seruan untuk mengulang produksinya dari awal.
Kualitas Animasi Jadi Sorotan Utama Kekurangan
Seperti yang dilansir dari screenrant.com, keluhan utama yang dilayangkan penggemar tertuju pada kualitas animasinya yang dinilai sangat rendah. Kritikan pedas menyebutkan bahwa anime ini terasa seperti presentasi PowerPoint—dengan minim gerakan dan didominasi oleh gambar statis. Perbandingan yang mengejutkan bahkan muncul, dengan beberapa penonton menilai kualitasnya lebih buruk dari Blue Lock Season 2, yang sebelumnya juga mendapat sorotan serupa karena animasi yang dianggap kaku.
Tak hanya masalah animasi, ketidakpuasan penggemar juga meluas ke aspek lain seperti desain karakter yang dianggap kurang menarik, penggunaan CGI yang berlebihan, narasi yang terlalu padat, serta banyaknya bagian penting dari cerita asli yang dipotong.
Kombinasi kekurangan ini membuat adaptasi anime The Beginning After the End terasa datar dan gagal menangkap keseruan serta daya tarik dari versi manhwa-nya.
Kasus The Beginning After the End ini menambah daftar panjang kekecewaan terhadap adaptasi anime. Sebelumnya, Tower of God Season 2 juga menerima kritik serupa terkait kualitas visualnya.
Akar permasalahan umum yang sering menghantui produksi anime di Jepang diduga kuat terletak pada jadwal produksi yang terlalu ketat dan anggaran yang terbatas.
Kondisi ini memaksa studio untuk mengambil jalan pintas, termasuk memangkas kualitas animasi, demi memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan.
Petisi Daring Menggema: Tuntut Penggantian Studio
Baru menayangkan tiga episode sejak perilisan perdananya pada 2 April lalu, gelombang kekecewaan penggemar The Beginning After the End mencapai puncaknya dengan diluncurkannya petisi daring di Change.org.
Petisi tersebut secara tegas menuntut agar proyek anime ini dibatalkan dan dikerjakan ulang oleh studio animasi yang berbeda. Dalam deskripsi petisinya, para penggemar merasa bahwa adaptasi yang ada saat ini telah merusak kualitas karya aslinya.
Bahkan, ide pendanaan ulang melalui crowdfunding juga diusulkan sebagai solusi untuk mendapatkan versi anime yang lebih layak.
Kekhawatiran Meluas ke Adaptasi Manhwa Lainnya
Kekecewaan terhadap The Beginning After the End tak hanya berhenti pada judul itu sendiri. Gelombang ketidakpuasan ini juga memicu kekhawatiran di kalangan penggemar terhadap proyek adaptasi manhwa lainnya, terutama Omniscient Reader’s Viewpoint, yang belum memberikan kabar terbaru sejak pengumumannya pada musim panas 2024.
Para penggemar kini dilanda ketakutan bahwa tren kualitas buruk ini dapat menjangkiti judul-judul populer lainnya yang tengah atau akan diadaptasi.
Anime The Beginning After the End kini menjadi preseden yang mengkhawatirkan bagi masa depan adaptasi manhwa ke format anime.
Meskipun demikian, perlu diakui bahwa The Beginning After the End memiliki cerita yang kuat dan basis penggemar yang besar. Karakter utama Arthur Leywin bahkan seringkali disandingkan dengan Jinwoo dari Solo Leveling dalam hal kekuatan dan perjalanan epik yang mereka lalui.
Akankah petisi penggemar membuahkan hasil, ataukah The Beginning After the End akan menjadi pelajaran pahit dalam adaptasi manhwa berkualitas tinggi? Waktu yang akan menjawab. (*/tur)




