Media Sosial dan Cancel Culture: Bahaya Tersembunyi pada Psikologi Anda

KALTENG.CO-Di era digital seperti sekarang, kehadiran media sosial sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.
Mulai dari Instagram, TikTok, hingga YouTube, masing-masing platform punya algoritmanya sendiri dan tujuan yang berbeda-beda. Sebagai pengguna aktif, Anda tentu tidak asing lagi dengan fenomena bernama “cancel culture”.
Secara singkat, cancel culture adalah budaya di mana publik, terutama di media sosial, memboikot atau menolak kehadiran seseorang atau sebuah organisasi. Hal ini terjadi karena tindakan, perkataan, atau kebijakan mereka dianggap melanggar nilai-nilai moral atau etika yang berlaku di masyarakat.
Siapa Saja yang Bisa Terkena Cancel Culture?
Fenomena ini bisa menimpa siapa saja. Mulai dari individu biasa, tokoh masyarakat, influencer, hingga perusahaan besar. Sebuah pernyataan kontroversial di media sosial, atau bahkan langkah bisnis yang tidak sesuai dengan nilai publik, bisa langsung memicu gelombang cancel culture.
Yang menarik, fenomena ini tidak selalu membedakan antara pihak yang benar atau salah. Seseorang bisa saja menjadi target cancel culture meskipun tindakannya tidak sepenuhnya keliru, atau bahkan salah paham.
Dampak Nyata Cancel Culture Bagi Target
Efek dari cancel culture sangat beragam dan bisa sangat merugikan bagi individu atau entitas yang menjadi target. Dampak paling jelas mungkin adalah kehilangan sumber mata pencarian bagi para influencer atau figur publik. Mereka bisa kehilangan kontrak endorsement, job, bahkan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Selain itu, pengucilan sosial juga menjadi konsekuensi yang umum. Target cancel culture bisa saja dijauhi oleh rekan-rekan mereka, atau bahkan menghadapi penolakan terang-terangan dari komunitas. Namun, di balik semua itu, ada satu dampak yang seringkali luput dari perhatian: efek psikologis yang mendalam.
5 Efek Psikologis Cancel Culture yang Perlu Anda Tahu
Ketika seseorang menjadi sasaran cancel culture, tekanan yang dihadapi sangat besar. Ini bukan hanya tentang kritik, tetapi seringkali juga ancaman, cyberbullying, dan rasa dipermalukan secara massal. Dilansir dari Therapy Helper dan High Focus Center, berikut adalah lima efek psikologis yang paling sering dialami oleh target cancel culture:
- Stres dan Kecemasan Berlebihan: Terus-menerus menghadapi gelombang kebencian, kritik, dan judgement publik bisa memicu tingkat stres yang sangat tinggi. Hal ini sering diikuti dengan kecemasan berlebihan, terutama saat menggunakan media sosial atau berinteraksi di ruang publik.
- Depresi dan Isolasi Sosial: Rasa malu, bersalah, atau bahkan kebingungan akibat cancel culture bisa berujung pada depresi. Target seringkali menarik diri dari lingkungan sosial, merasa sendirian, dan kehilangan motivasi untuk beraktivitas.
- Gangguan Citra Diri dan Percaya Diri: Serangan personal yang masif dapat merusak citra diri seseorang. Mereka mungkin mulai meragukan nilai diri, merasa tidak layak, atau bahkan membenci diri sendiri. Ini tentu saja berdampak pada tingkat kepercayaan diri mereka.
- Paranoia dan Ketidakpercayaan: Pengalaman diboikot atau ditolak oleh banyak orang bisa menimbulkan rasa paranoia. Mereka mungkin merasa tidak bisa lagi mempercayai orang lain, atau bahkan takut akan setiap interaksi di masa depan.
- Trauma dan PTSD: Dalam kasus yang ekstrem, cancel culture bisa meninggalkan trauma psikologis yang mendalam. Tekanan terus-menerus, ancaman, atau doxing (penyebaran informasi pribadi) bisa memicu gejala mirip Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), seperti flashback, mimpi buruk, atau kesulitan tidur.
Cancel culture memang lahir dari niat untuk menjaga nilai-nilai sosial dan akuntabilitas. Namun, penting bagi kita untuk menyadari bahwa di balik layar digital, ada individu yang menghadapi dampak nyata dan mendalam, terutama dari sisi psikologis. (*/tur)



