AKHIR PEKANBeritaFAMILYLife StyleMETROPOLIS

Dampak Tersembunyi Fatherless: 7 Perilaku Umum Pria yang Tumbuh Tanpa Panutan Ayah yang Baik

KALTENG.CO-Tidak semua pria beruntung tumbuh dengan kehadiran sosok ayah atau figur pria dewasa yang positif dan dapat dijadikan panutan dalam hidup mereka.

Fenomena fatherless, dalam artian ketiadaan figur ayah yang laik menjadi contoh, seringkali dialami oleh banyak pria.

Kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh absennya fisik seorang ayah di rumah, melainkan lebih kepada ketidakmampuan ayah atau figur pria dewasa lainnya untuk memberikan contoh perilaku yang sehat secara emosional dan mental.

Entah karena ketidakhadiran ayah secara fisik, ayah yang emosionalnya tidak stabil dan tidak responsif, atau keberadaan figur laki-laki dewasa yang justru menunjukkan perilaku destruktif, ketiadaan contoh pria yang matang dan sehat secara emosional selama masa pertumbuhan dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang signifikan bagi perkembangan seorang pria.

Menurut perspektif psikologi, pria yang tumbuh tanpa figur panutan pria yang positif sering kali mengembangkan pola perilaku tertentu sebagai mekanisme pertahanan dan cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Menariknya, banyak dari perilaku ini muncul secara tidak sadar dan dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, mulai dari hubungan interpersonal, tingkat kepercayaan diri, hingga pandangan mereka terhadap maskulinitas itu sendiri.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (4/5), terdapat tujuh perilaku umum yang sering ditunjukkan oleh pria yang tumbuh tanpa kehadiran figur panutan pria yang sehat:

1. Kesulitan dalam Mengelola Emosi:

Tanpa contoh bagaimana seorang pria dewasa mengekspresikan dan mengelola emosinya secara sehat, pria yang tumbuh tanpa panutan seringkali kesulitan dalam mengidentifikasi, memahami, dan meregulasi perasaan mereka. Mereka mungkin cenderung memendam emosi, meledak-ledak, atau mencari cara yang tidak sehat untuk melampiaskannya.

2. Masalah Kepercayaan Diri dan Harga Diri:

Figur ayah yang positif seringkali berperan dalam membangun rasa percaya diri dan harga diri seorang anak laki-laki melalui dukungan, validasi, dan bimbingan. Tanpa kehadiran figur ini, pria mungkin tumbuh dengan perasaan tidak aman, meragukan kemampuan diri, dan memiliki pandangan negatif terhadap diri sendiri.

3. Kesulitan Membangun dan Mempertahankan Hubungan yang Sehat:

Kurangnya contoh hubungan pria dewasa yang sehat (baik hubungan dengan pasangan, keluarga, maupun teman) dapat membuat pria kesulitan dalam membangun dan mempertahankan hubungan yang stabil dan memuaskan. Mereka mungkin kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif, membangun kepercayaan, atau memahami dinamika hubungan yang sehat.

4. Pandangan yang Terdistorsi tentang Maskulinitas:

Tanpa panutan pria yang menunjukkan maskulinitas yang sehat dan seimbang (yang mencakup kekuatan fisik dan emosional, tanggung jawab, empati, dan kerentanan), pria mungkin mengembangkan pandangan yang sempit atau terdistorsi tentang apa artinya menjadi seorang pria. Mereka mungkin menginternalisasi gagasan maskulinitas toksik yang menekankan dominasi, kekerasan, dan penekanan emosi.

5. Perilaku Mencari Validasi Eksternal:

Karena kurangnya validasi dan penerimaan dari figur ayah selama masa pertumbuhan, pria mungkin mengembangkan kebutuhan yang kuat untuk mencari validasi eksternal dari orang lain. Mereka mungkin sangat bergantung pada persetujuan dan pujian untuk merasa berharga.

6. Kesulitan dalam Membuat Keputusan dan Bertanggung Jawab:

Figur ayah yang baik seringkali mengajarkan tentang pengambilan keputusan yang bijak dan pentingnya bertanggung jawab atas tindakan. Tanpa bimbingan ini, pria mungkin merasa kesulitan dalam membuat keputusan yang tepat dan cenderung menghindari tanggung jawab.

7. Siklus Perilaku Destruktif:

Dalam beberapa kasus, pria yang tumbuh tanpa panutan pria yang sehat dapat mengulang pola perilaku destruktif yang pernah mereka saksikan dari figur pria dewasa di sekitar mereka (misalnya, kekerasan, penyalahgunaan zat, atau ketidakstabilan emosi). Ini bisa menjadi cara mereka untuk meniru apa yang familiar atau sebagai bentuk pemberontakan terhadap ketiadaan figur positif.

Penting untuk dipahami bahwa dampak dari fatherless tidak selalu sama pada setiap individu. Namun, mengenali perilaku-perilaku umum ini dapat menjadi langkah awal bagi pria yang tumbuh tanpa panutan ayah yang baik untuk memahami diri mereka sendiri dengan lebih baik dan mencari cara yang lebih sehat untuk mengatasi tantangan yang mereka hadapi.

Terapi, kelompok dukungan, dan mencari figur panutan positif di kemudian hari dapat menjadi jalan menuju penyembuhan dan perkembangan diri yang lebih baik. (*/tur)

KADIN KALTENG
https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button