BeritaNASIONALOPINI

Refleksi Satu Abad NU

KAMI tersenyum ketika melintasi jalanan Sidoarjo dan sekitarnya. Tidak biasa. Atribut bak pesta (walimah) besar terpasang di sepanjang jalanan yang kami lalui hingga jalanan sekitar GOR Delta Sidoarjo.

Ya, puncak resepsi Hari Lahir (Harlah) ke-100 tahun atau Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) akan dilaksanakan di sana. Pasti meriah. Sebanding dengan atribut ucapan selamat yang tersebar di banyak lokasi dan jalan-jalan. Bahkan, juga banyak di luar Sidoarjo.

Namun, ada satu atribut ucapan selamat yang terlihat dominan. Baik jumlah maupun tampilannya. Tampak mencolok karena foto perorangan dalam atribut itu tercetak besar dibanding tulisan maupun foto bayangan Presiden RI (memakai masker) di belakangnya.

Memantik mata siapapun agar fokus melihat fotonya. Bahkan, warna kontras pada surban yang dipakai membuat penasaran ingin mendekat, mengenali dan mengamatinya.

https://kalteng.co

Oh, ternyata foto Bapak H. Erick Thohir, ketua Panitia Pelaksana Peringatan Satu Abad NU. Pangling. Sebab, tidak seperti biasanya, tampil tanpa peci dan surban. Pak ET atau Pak Ethoh demikian beliau biasa dipanggil. Mungkin menyesuaikan konteks acara yang dihadiri Nahdliyyin.

“Selamat Datang Kader dan Anggota Nahdlatul Ulama.’’ Ucapan yang tertulis pada atribut itu, seakan ingin menyapa dan memberi hormat kepada tamu, agar diketahui.

“Beliau kan Menteri BUMN yang biasa tampil resmi kementerian, tanpa peci dan surban.’’ ’’Beliau kan sempat viral setahun lalu karena ikut pendidikan dan latihan dasar sayap Banom NU.’’ ’’Tapi, beliau juga viral di media beberapa waktu lalu karena dilambungkan namanya sebagai capres-cawapres 2024 oleh partai politik dan lembaga survei politik.’’

Kalimat-kalimat ini terucap dalam batin kami. “Kalau begitu, apa kaitan atribut mencolok dengan perayaan megah Harlah 100 tahun NU?” Pertanyaan batin kami selanjutnya.

Kami tidak bisa menduga-duga berlebihan. Apalagi berprasangka tidak baik. Kami penasaran, lantas turun dari kendaraan. Kami amati dan cermati kembali atribut itu agar tidak menilainya liar.

Di sudut atas kanan atribut itu, ternyata tertulis: LERIK (Loyalis Erick). Bersanding dengan logo Satu Abad dan 100 Tahun NU. Ini semacam petunjuk siapa pembuat, pemasang dan pendistribusi atribut, sekaligus menyibak lapisan tujuan-tujuannya?

LERIK ini bukan organ struktural atau kultural NU. Lebih tepatnya kelompok gerakan politik. Lalu, bagaimana para ’’Lerikers’’ mempunyai akses, bahkan dominan mengeksplorasi ekspresi politik mereka dalam event megah dan bersejarah NU? Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dicari jawabannya agar dugaan liar ada ’’penunggang gelap’’ bisa dijelaskan dengan gamblang.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button