Waspadalah, Tahu dan Tempe akan (Langka)?

Dari sini jelas diketahui bahwa keberadaan kedelai dari hasil tanam petani memang sudah berkurang. Yang jadi pertanyaan, mengapa berkurang? Mengapa tidak menanam kedelai lagi? Padahal kebutuhan pangan akan kedelai sangat besar, seiring kenaikan jumlah penduduk. Tidak pernah terdengar lagi berita panen raya di suatu daerah yang ramai dalam berita seperti dulu.
Peran semua pihak tentunya amat dibutuhkan turun tangan langsung dari pemerintah dari tingkat hulu-hilir, dari atasan sampai bawahan mengatasi ”penyakit” menahun ini. Tidak bias dibebankan pada pemerintah pusat saja, atau pemerintah daerah saja.
Permasalahan kenaikan harga kebutuhan dasar pangan terus berulang, tanpa ada solusi dasarnya, selama ini hanya diurusi masalah bahwa pasokannya telah memenuhi kebutuhan.
Dan apabila kebutuhan sudah terpenuhi oleh impor, seolah “lupa” akan sejarah kebutuhan yang belum terpecahkan keakarnya.
Sampai saat ini diketahui bahwa kinerja produksi pangan domestic stagnan, bahkan merosot, diiringi melonjaknya pangan impor. Nilai impor paling besar disumbang oleh gandum, kedelai, gula, susu daging dan sapi, aneka buah-buahan serta bawang putih. Saat ini Indonesia bergantung 100 persen untuk gandum, 80 persen untuk kedelai, 70 persen susu, 68 persen gula, 30 persen daging sapi, 98 persen bawang putih .
Sebagian besar kebutuhan pangan tersebut diimport dari negara maju, dan belum ada tanda-tanda ketergantungan import akan menurun (Khudori :JP6Jan21).




