Aktivis Dayak: Ada Kepentingan Elit Dibalik Polemik TBBR

Menurutnya, mereka itu menjunjung hukum adat atau pada saat bersamaan juga melanggar hukum adat. Makanya kalau didenda itu, didenda semuanya dari kedua belah pihak. Karena mereka bikin ribut.
“Artinya apa? Kita teriak menyalahkan orang lain, tetapi kita sendiri pun salah. Kalau menurut saya, itu ada kepentingan elit. Apasih yang diributkan? Jangan-jangan hanya karena kecemburuan,” cecarnya.
Dijelaskannya, sebagai Aktivis Dayak ia juga acung jempol kepada mereka TBBR. Karena dalam jangka waktu dua tahun di masa pandemi, TBBR bisa diterima di kampung pedalaman Kalteng. Dalam hal ini bukan dalam arti mendukung suatu pihak, namun ia mengaku mengetahui dinamika dari TBBR itu sendiri.
“Jika orang Dayak menolak sesama orang Dayak itu artinya tidak paham arti perdamaian Tumbang Anoi. Selain itu ada yang namanya Budaya Betang. Yang terpenting adalah arti kata dari Adil Katalino Bacuramin Kasaruga Basengat Kajubata,” urainya.
Disebutkannya, seperti Adil Katalino yang artinya adil dalam perkataan, baik dalam perbuatan dan selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Esa. Kalau kita teriak-teriak menyalahkan orang lain, tidak ada gunanya berarti berbicara menggunakan kalimat tersebut.
“Jadi ada tiga hal yang mereka belum memahami secara sepenuhnya hal tersebut. Saya meragukan mereka itu betul memahami arti tiga unsur yang ada tersebut. Kok berani-beraninya mereka mengatasnamakan adat Dayak,” tandasnya. (oiq)



