Penanaman Padi di Lahan Ekstensifikasi Rampung Maret

PERTANIAN: Petani di Desa Sanggang, Kecamatan Pandih Batu tengah melakukan pengolahan lahan. Untuk meningkatkan produksi padi, pemerintah tahun lalu juga melakukan ekstensifi kasi pertanian di kawasan food estate.
PERTANIAN: Petani di Desa Sanggang, Kecamatan Pandih Batu tengah melakukan pengolahan lahan. Untuk meningkatkan produksi padi, pemerintah tahun lalu juga melakukan ekstensifi kasi pertanian di kawasan food estate.

PULANG PISAU,kalteng.co-Kabupaten Pulang Pisau tahun lalu mendapat program ekstensifikasi seluas sekira 3.000 hektare. Program tersebut dilaksanakan di kawasan food estate, yakni di Kecamatan Pandih Batu. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau Slamet Untung Riyanto mengungkapkan, saat ini tengah dilakukan pengolahan lahan di kawasan tersebut. “Kami menargetkan penanaman padi di lahan ekstensifi kasi rampung pada Maret mendatang,” kata Slamet, Senin (3/1).

Dia mengaku, sarana dan prasarana untuk penanaman padi sudah tersedia. “Untuk benih, pupuk maupun kapur sudah ada. Kami optimistis, Maret nanti penanaman rampung,” ucap dia. Sebelumnya Slamet menegaskan, dengan adanya program tersebut diharapkan akan semakin meningkatkan produksi padi di Kabupaten Pulang Pisau. Namun Slamet belum memastikan target produksi padi sejalan dengan program tersebut.

“Target dari kegiatan tersebut adalah peningkatan produksi padi. Namun dalam tahun pertama tentu produksinya belum bisa optimal. Untuk mencapai produksi optimal, setidaknya pada tahun kedua dan ketiga,” kata dia. Itupun, lanjut dia, harus diimbangi dengan teknologi, tata kelola pengairan, kapur dan pupuk. Slamet mengaku, jika ekstensifikasi seluas 3.000 hektare itu selesai, nanti pemerintah pusat akan menyediakan kapur dan pupuk serta bibit untuk petani. “Itu diberikan secara gratis,” ucapnya.

Baca Juga:  BREAKING NEWS! Proyek Bangunan Dermaga Feri Pangkoh Runtuh

Slamet mengaku, dengan adanya ekstensifikasi lahan seluas 3.000 hektare itu untuk sumber daya manusia (SDM) petani tidak mengalami masalah. “Karena untuk menetapkan 3.000 hektare itu prosesnya panjang dan sudah melalui survei investigasi dan desain (SID). Bahwa lahan itu jelas dan petaninya ada. Sehingga harapan kita tidak ada masalah,” tegasnya Slamet menjelaskan, dari SID itu sudah dirancang betul-betul calon petani calon lahan dan itu sudah melalui kajian.

“Bahkan dalam kajian itu juga dilakukan kajian lingkungan,” tegasnya. Dia mengaku, dalam SID juga juga lengkap. Ada leand clearing, land leveling, membuat pematang, jalan usaha tani dan saluran air. Begitu juga sara produksi pertanian seperti kapur, pupuk dan bibit juga ada. Slamet juga berharap, dengan adanya ekstensifi kasi itu nanti ada sinergitas kementerian dengan dinas terkait tata kelola air. “Air ini sangat penting untuk menyukseskan pertanian. Karena padi padi itu ruhnya di air. Kalau airnya tidak diatur, tidak akan bisa,” kata Slamet. (art)