PANDEMI

Pakai APD Delapan Jam, Banjir Keringat hingga Sempat Dehidrasi

Sejak corona virus disease 2019 (Covid-19) mewabah ke seluruh dunia Maret 2020, tenaga medis menjadi garda terdepan menangani virus yang berawal dari Wuhan, Tiongkok itu. Di Indonesia, pemerintah harus mencari tambahan dokter, perawat, dan lainnya untuk menjadi sukarelawan. Dari Kalimantan Tengah pun mengirimkan sukarelawan ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta.

VINSENSIUS GL, Palangka Raya

PADA Rabu (23/9) lalu, lima orang perawat yang merupakan alumni D3 Keperawatan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Palangka Raya berangkat ke Jakarta melalui Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Mereka adalah Jeepry, Andra Eger, Aditya Wirayudha, Aisyah, dan Ayu Pitriani. Kelimanya menjadi tenaga sukarelawan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

Sebelum berangkat, banyak hal yang membuat mereka ragu dan khawatir. Mulai dari izin orang tua, saudara, kekasih, hingga rasa takut akan keselamatan selama bertugas. Mengingat belum ditemukan vaksin dan banyak berita mengenai gugurnya tenaga medis akibat virus itu.

“Dengan membulatkan hati, pikiran, dan tujuan, saya akhirnya memutuskan untuk berangkat. Saya sangat bersemangat, karena ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk memberikan tenaga saya guna membantu bangsa Indonesia menghadapi pandemi,” kata Jeepry yang juga dibenarkan Aisyah kepada Kalteng Pos.

Setiba di Jakarta, mereka diarahkan menginap di salah satu hotel yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai tempat peralihan.

Keesokan harinya, Kamis (24/9) pukul 07.00 WIB setelah sarapan, mereka tergabung dalam sukarelawan gelombang 43 Poltekkes Kemenkes se-Indonesia. Dijemput menggunakan bus menuju RSDC Wisma Atlet dan diarahkan menuju tower 2 lantai 2 untuk orientasi, medical check up, serta pembagian tim dan id card. Kegiatan tersebut dimulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Setelah semuanya selesai, sukarelawan dibagikan kamar istirahat khusus. Yaitu tower 1 dan 3 untuk laki-laki dan tower 2 untuk perempuan.

Sukarelawan yang bertugas di RSDC Wisma Atlet Kemayoran adalah kiriman dari TNI, Polri, Kemenkes, dan BUMN se-Indonesia yang berprofesi medis. Seperti dokter, apoteker, perawat, gizi, rekam medis, ahli teknonogi laboratorium medik (ATLM), psikolog, serta profesi nonmedis.

Saat bertugas, sukarelawan ditempatkan pada 4 tower isolasi pasien. Di tower 6 menangani pasien instalasi gawat darurat (IGD), high care unit (HCU), dan VIP. Tower 7 menangani pasien bergejala (simptomatik) dan dengan penyakit penyerta (komorbid). Sedangkan tower 4 dan 5 menangani pasien tanpa gejala (asimptomatik).

Sebelum mulai berdinas, sukarelawan harus menggunakan perlengkapan dinas atau alat pelindung diri (APD). Meliputi hazmat, google, face shield, masker bedah, masker N95, sarung tangan bersih, sarung tangan steril, kaus kaki, dan sepatu boots. Lama waktu kerjanya delapan  jam. Dengan jadwal dinas pagi pukul 08.00-15.30, sore 15.30-23.00, dan malam 23.00-08.00 WIB.

Selama berdinas di ruangan, sukarelawan tak diperkenankan membuka hazmat dengan alasan apa pun demi keselamatan diri dari paparan virus.

“Saya tergabung dalam tim D dan berdinas di tower 7 dan 4. Selama berdinas, karena profesi saya sebagai perawat, pekerjaan saya adalah melakukan tindakan keperawatan. Seperti memonitor kondisi kesehatan pasien, mengatur diet makanan, dan memberikan obat sesuai terapi,” ungkap Jeepry lagi. Sedangkan Aisyah dan yang lainnya bertugas di tower lain.

Banyak tantangan saat berdinas selama delapan jam. Hal-hal yang perlu disesuaikan adalah mengatur pola eliminasi atau buang air besar dan buang air kecil (BAB/BAK), jam makan dan minum, mandi, serta menghindari terbukanya hazmat.

Melakukan tindakan keperawatan sambil menggunakan hazmat, bagi Jeepry, adalah pengalaman baru. Beberapa kali merasa kurang nyaman hingga mengalami dehidrasi. Bahkan kesulitan menahan gatal pada kulit tubuh.

“Sering kali tubuh saya dibanjiri keringat. Sering saya mengeluh atas hal tersebut. Tapi semuanya tidak lebih besar dari keinginan untuk tetap berjuang. Semangat saya terus terisi, karena raut wajah bahagia dari pasien yang berhasil menjalani terapi dan sembuh, lalu dapat berkumpul kembali bersama keluarga di rumah. Banyak ucapan terima kasih dan doa membuat saya merasa sangat puas dan tetap berjuang sampai akhir masa tugas,” katanya.

Selesai dinas, sukarelawan menuju ruang dekontaminasi untuk sterilisasi. Seluruh tubuh yang terpasang hazmat disemprot disinfektan untuk mencegah kontaminasi virus. Setelah dekontaminasi, harus mandi lagi, ganti pakaian, serta diberikan makanan bergizi dan vitamin.

“Sampai di kamar khusus sukarelawan, saya tidak langsung tidur. Saya menyeka kembali seluruh tubuh (mandi), makan, dan konsumsi vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Setelah itu menuju tempat tidur untuk beristirahat,” akuinya.

Selama bertugas di RSDC Wisma Atlet, Jeepry mengaku, fasilitas dari pemerintah sudah mencukupi kehidupan selama di Jakarta. Mulai dari akomodasi, kebutuhan makan dan minum, tempat tidur, dan insentif. Untuk menghilangi kejenuhan, selama libur dinas mereka melakukan hobi seperti olahraga, main game, atau sekadar berkumpul dengan sukarelawan lainnya.

Setelah selesai tugas, sebelum meninggalkan area RSDC Wisma Atlet, mereka mengurus dokumen persyaratan, yaitu surat selesai tugas, surat bebas Covid-19, serta mengembalikan id card dan kunci kamar. “Pada Minggu (25/10), saya menjalani swab. Hasilnya keluar dua hari setelahnya. Puji Tuhan saya mendapatkan hasil negatif dan dinyatakan sehat, sehingga diperbolehkan kembali ke Palangka Raya,” ungkapnya lagi.

“Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama bertugas. Saya sangat puas terhadap diri saya. Seumur hidup, ini akan menjadi pengalaman luar biasa dan pencapaian profesi terbaik saya sebagai perawat. Saya bisa bergabung dengan sukarelawan dari seluruh Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19. Perjuangan saya di RSDS Wisma Allet telah berakhir, tapi perjuangan untuk meningkatkan derajat kesehatan Indonesia akan terus berlanjut,” tutup Jeepry yang merupakan lulusan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya tahun 2016 itu. (*)

Related Articles

Back to top button