Utama

Kemarau 2020 Diprediksi Tak Separah Tahun Lalu

Image Image

PALANGKA RAYA-Saat ini beberapa wilayah di Kalteng sudah memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Palangka Raya menyebut, pada awal Juli ini, daerah yang akan mengalami peralihan musim meliputi Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau.

Akhir Juli nanti, daerah yang mengalami peralihan musim yakni wilayah bagian utara seperti Kabupaten Murung Raya (Mura), Gunung Mas (Gumas), dan Kabupaten Kapuas bagian utara. Secara umum, sepanjang Juli ini masih berada pada masa peralihan atau awal musim kemarau.

Prakirawan BMKG Kota Palangka Lian Adriani mengatakan, jika Juli merupakan awal musim, maka dapat diprediksikan bahwa pada Agustus nanti Kalteng akan mengalami kemarau. Pada Agustus dan September diyakini sebagai puncak kemarau tahun ini.

“Dengan demikian, pada Oktober hingga awal November akan mulai peralihan musim dari kemarau ke musim hujan lagi,” katanya kepada Kalteng Pos melalui sambungan telepon, Kamis (2/7).

Lebih lanjut dikatakannya, meski Kalteng sudah memasuki peralihan musim, hujan masih akan tetap turun. Bahkan, lanjut dia, saat musim kemarau tiba pun, di Kalteng masih akan ada hujan, meski dengan intensitas yang rendah.

“Berdasarkan data terakhir, diprediksi bahwa kemarau ini masih normal. Jadi, kemarau 2020 ini tidak sekering kemarau tahun sebelumnya (2019),” ungkapnya.

Baca Juga:  Kepsek SMP Dikeroyok Tiga Oknum Guru, Pemicunya Tidak Terima Dimutasi

Pihaknya mengimbau agar selama musim kemarau tahun ini tidak ada pembakaran untuk membuka lahan, terutama sepanjang puncak musim kemarau.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng Darliansjah mengatakan, sebagai langkah persiapan Pemprov Kalteng untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini, dalam waktu dekat pihaknya akan mengaktifkan kembali posko satuan tugas (satgas).

“Kami juga akan segera menyurati Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat untuk meminta dukungan dalam rangka penanganan karhutla di Kalteng,” tuturnya, Jumat (3/7).

Diungkapkannya, dukungan yang dimaksud ini, salah satunya terkait penyediaan teknologi modifikasi cuaca (TMC), pesawat helikopter water bombing, dan helikopter patroli. Jumlah minimal helikopter water bombing yang akan diminta ke pusat sebanyak lima unit.

“Lima unit WB ini adalah jumlah minimal untuk meng-cover seluruh kabupaten/kota di Kalteng,” ujarnya.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kalteng ini, pihaknya juga meminta agar kepala daerah menetapkan status siaga karhutla pada waktu yang tepat. Selain itu, pemerintah daerah segera mengaktifkan pos lapangan pencegahan dan kesiapsiagaan pasukan gabungan yang melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh adat.

“Pos lapangan dibangun di daerah yang sering terjadi kebakaran alias rawan karhutla, termasuk melakukan patroli, sosialisasi, dan edukasi,” tegasnya. Ditambahkannya, peralatan pemadam kebakaran yang ada saat ini dinilai sudah memadai. “Jika nanti upaya pemadaman kebakaran tidak bisa ditangani oleh tim darat, maka akan dieksekusi oleh tim udara,” pungkasnya.

Image Image Image Image Image Image Image

Related Articles

Back to top button