Utama

Rektor UPR Bicara Strategi Bisnis Media Masa Pandemi

PALANGKA RAYA-Industri media menjadi satu dari sekian banyak sektor usaha yang terdampak Covid-19. Baik media cetak, elektronik, maupun media daring merasakan hantaman pandemi yang melanda Indonesia sejak Maret lalu. Kondisi ini membuat perusahaan pers harus cepat mengatur strategi menghadapi bencana yang tak tahu kapan akan berakhirnya.

Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Dr Andrie Elia berbagi tips dan strategi bisnis media selama masa pandemi ini. Hal itu diutarakannya saat menjadi narasumber dalam diskusi forum pemimpin redaksi bertajuk Masa Depan Bisnis Media yang berlangsung di Ballroom Hotel Neo, Palangka Raya, Sabtu pagi (12/7). Dalam kegiatan yang digagas oleh PWI Kalteng itu, rektor berbicara di hadapan seluruh pemred media cetak, elektronik, dan media online se-Kalteng.

Dalam gagasannya, Rektor UPR Andrie Elia menyebut, perusahan pers atau media harus bisa secepatnya beradaptasi dengan kondisi saat ini. Jangan sampai berpikir bahwa pandemi ini hanyalah sebentar saja, karena ada kemungkinan wabah ini akan berlangsung dalam waktu yang lama.

https://kalteng.cohttps://kalteng.cohttps://kalteng.co

“Semua insan media harus mempersiapkan diri. Ciptakan era baru media. Karena bisnis yang terpuruk harus mencari survival mode atau model bisnis baru,” ujar Andrie Elia sembari mengingatkan kepada perusahaan pers agar seluruh sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bisa menguasai teknologi di era revolisi industri 4.0 ini.  

“Manfaatkan kemajuan teknologi sekarang ini. Insan pers harus punya inovasi untuk mempertahankan bisnis medianya. Sebagai contoh media cetak, tentu yang versi cetak tetap dipertahankan, tapi model baru di era digital juga harus dikembangkan,” ungkapnya.

Andrie menyebut, perusahaan pers tidak mungkin bisa bergerak sendiri. Oleh sebab itu, pemerintah memiliki peran yang cukup sentral untuk membantu dengan memasukkan subsidi dari APBD maupun APBN, kapan perlu menelurkan regulasi. Oleh sebab itu, pria yang juga Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng ini memberikan beberapa rekomendasi kepada para pemangku kepentingan.

“Pertama, memberikan insentif kepada perusahaan pers. Kedua, subsidi harga kertas dan iuran BPJS Kesehatan/

Ketenagakerjaan. Ketiga, diversifikasi pajak dengan sasaran platform media sosial, guna menciptakan iklim usaha yang sehat,” terangnya.  

Menurut Andrie Elia, media mempunyai peran yang sangat luar biasa, karena media mempunyai fungsi yang baik untuk mendidik masyarakat. Bayangkan, kata Andrie, apabila masyarakat tidak mengetahui informasi atau isu nasional bahkan regional, seperti informasi mengenai Covid-19 yang tengah melanda Indonesia saat ini.

“Masyarakat tentu akan merasa lebih lega dan nyaman saat informasi terkait isu ini jelas dan transparan,” terangnya.

Selain itu, tambah Andrie Elia, peran media di tengah pandemi ini adalah menjembatani proses komunikasi dan arus informasi tentang skala penyebaran virus maupun wacana yang asimetris tentang tingkat kepentingan situasi.  Media juga, lanjut dia, berperan memberikan perkembangan berita, mengomunikasikan cerita di balik angka-angka (data Covid-19) dan menginformasikan apa yang akan dilakukan negara untuk merespons wabah ini, serta apa yang dapat dilakukan individu.

“Media pun harus bisa memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan akuntabel dan dapat dipercaya,” pungkasnya. (ala/ce)

Related Articles

Back to top button