Sosok Sang Jenderal Dimata Anggota Kopassus

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Sebagai seorang Perwira, Brigadir Jenderal TNI Yudianto Putrajaya, S.E.,M.M., banyak meninggalkan cerita bagi rekan, mitra, dan juga anggotanya saat bertugas di berbagai satuan.
Seperti saat bertugas di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), perwira lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1993 kecabangan Infanteri akrab disapa Putra ini, mengabdi selama kurang lebih 17 tahun di satuan berjuluk Korps Baret Merah.


Berawal menjabat sebagai Danunit, Danton, Danki, Kasi, Wadan, Komandan sekolah PARA, Danyon 21 Group-1 Kopassus, hingga menjabat sebagai Pabandya Binkar Spers Kopassus sampai dengan 2010, sebelum akhirnya menjabat sebagai Dandim 1309/Manado hingga 2011.
Meski tidak lagi bertugas di satuan elite Kopassus, perwira kelahiran Manado 1970 keturunan Jawa ini tetap berkomunikasi dengan rekan, mitra, dan anggotanya. Itu karena, rasa cinta Brigjen TNI Yudianto Putrajaya begitu besar terhadap satuan Kopassus.
Seperti diungkapkan Sersan Mayor (Serma) Sukmana yang saat ini dinas di Pamops Denma Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, mengenal Brigjen TNI Yudianto Putrajaya semenjak bujang dan berpangkat Letnan Satu (Lettu) di Batalyon 22 group 2 Kopassus Kartosura, Solo, Jawa Tengah.
“Saya cukup lama kenal dengan bapak Brigjen TNI Yudianto Putrajaya, jadi banyak cerita yang saya ingat saat bertugas bersamanya. Itu berawal saat kami satu penugasan ke Irian Jaya, Kipur X tahun 1997, dimana saya bertugas sebagai carakanya,” ucap Serma Sukmana kepada Kalteng.co, Jumat (13/5/2022).
Hal lain yang diingat Serma Sukmana dari Brigjen TNI Yudianto Putrajaya yaitu saat menjabat sebagai Komandan Kompi (Danki) di Batalyon 22 group 2 Kopassus, dimana saat memimpin apel ataupun berbicara, nada suaranya terdengar keras dan lantang seperti terlihat lagi marah, padahal sedang tidak lagi marah.
“Suara beliau keras dan lantang seperti orang lagi marah, padahal nada bicaranya memang seperti itu. Meski bersuara lantang dan keras, beliau sangat suka makan telor ceplok mata sapi. Jadi begitu sampai dikediaman (rumah dinas) sering minta untuk dibuatkan,” bebernya.
Dan paling Serma Sukmana ingat yakni saat akan melaksanakan Shalat Jum’at di Masjid asrama setempat. Dimana saat itu ia dan Brigjen TNI Yudianto Putrajaya berboncengan berangkat menuju Masjid menggunakan motor trail TS. Karena belum begitu mahir mengendalikan motor trail TS, mereka berdua hampir terjatuh sambil teriak minta tolong.
“Kalau saya lihat wajah beliau tidak berubah, tetap hitam manis. Jika dulu kurus, saat ini sudah mulai berisi. Meski terlihat seperti pembunuh berdarah dingin, namun aslinya karakter beliau baik. Karena saya pernah tugas bersama beliau ke Irian Jaya tahun 1997 dan pernah tinggal serumah dengannya,” tutup Serka Sukmana. (pra)



