BeritaFAMILYLife StyleMETROPOLIS

Kesehatan Mental Anak Utama! Cara Orang Tua Non-Selir Meredakan Trauma Perselingkuhan

KALTENG.CO-Perselingkuhan adalah badai yang tak hanya menghantam bahtera rumah tangga, tetapi juga kerap meninggalkan luka mendalam pada individu yang terlibat, terutama anak-anak.

Saat salah satu orang tua terlibat perselingkuhan, peran orang tua yang tidak berselingkuh menjadi sangat krusial. Bukan hanya sekadar “korban” dalam konflik, tetapi juga pilar utama untuk menjaga kestabilan emosi anak dan meminimalkan dampak psikis yang terjadi.

Menjadi Contoh Nyata: Lebih dari Sekadar Nasihat

Di tengah gejolak emosi dan ketidakpastian, anak membutuhkan contoh nyata dalam mengelola emosi. Orang tua yang tidak berselingkuh perlu menunjukkan bagaimana mengelola emosi secara sehat, bukan hanya lewat nasihat, tapi lewat tindakan nyata. Ini berarti menunjukkan ketenangan di bawah tekanan, mencari solusi yang konstruktif, dan menghindari meluapkan emosi negatif di hadapan anak.

Kehadiran rutin dan konsisten dari orang tua akan menciptakan ruang aman bagi anak untuk tetap tumbuh stabil. Ini bukan tentang hadir secara fisik saja, tetapi juga hadir secara emosional, mendengarkan, dan memberikan dukungan tanpa syarat.

Seperti yang disampaikan oleh founder Ertamentari Psikolog, Ratna Sari SPsi MPsi Psikolog CH CHt CPHt, “Jangan hilangkan rutinitas, tetap hadir, dan kalau memang tidak sanggup sendirian, tak ada salahnya membangun support system dari luar. Bisa dari keluarga, atau tenaga profesional.”

Pentingnya rutinitas tidak bisa diremehkan. Di tengah perubahan besar, rutinitas yang stabil memberikan rasa aman dan prediktabilitas bagi anak. Ini bisa sesederhana makan malam bersama setiap hari atau membaca buku sebelum tidur.

Membangun Support System: Anak Tak Boleh Merasa Sendirian

Anak tidak boleh merasa sendirian dalam situasi yang emosional dan rumit. Membangun support system yang kuat adalah kunci. Ini bisa melibatkan anggota keluarga terdekat seperti kakek-nenek, paman, bibi, atau bahkan teman dekat yang dapat dipercaya. Lingkaran dukungan ini dapat memberikan perspektif tambahan, bantuan praktis, dan yang terpenting, kasih sayang yang konsisten.

Selain itu, orang tua juga perlu waspada terhadap tanda-tanda anak memerlukan bantuan profesional. Perubahan perilaku drastis, penurunan prestasi akademis, kecenderungan menarik diri, atau bahkan perilaku melukai diri (self-harm) adalah sinyal merah yang tidak boleh diabaikan.

“Jika sudah menunjukkan gejala depresi, cemas berlebihan, dan tidak mau melakukan aktivitas apa pun, segera cari pertolongan profesional,” tegas Ratna Sari. Mencari bantuan dari psikolog anak atau konselor bukanlah tanda kelemahan, melainkan tindakan nyata dari orang tua yang bertanggung jawab demi kesejahteraan mental anak.

Validasi, Kejujuran, dan Kasih Sayang: Penawar Luka Emosional

Perselingkuhan memang keputusan pribadi orang dewasa. Namun, ketika anak ikut terdampak, maka cara orang tua menyikapi dan mengelola konflik rumah tangga menjadi sangat menentukan kesehatan mental anak di masa depan.

Ada tiga kunci penting yang dapat menjadi penawar bagi luka emosional yang terbentuk:

  1. Validasi Emosi Anak: Izinkan anak merasakan apa yang mereka rasakan—marah, sedih, bingung, atau bahkan kecewa. Jangan meremehkan atau menekan emosi mereka. Dengarkan dengan empati dan sampaikan bahwa perasaannya valid.
  2. Kejujuran yang Bijak: Berikan penjelasan yang jujur namun sesuai dengan usia anak. Hindari detail yang terlalu berat atau menyalahkan pihak lain secara berlebihan. Fokus pada fakta yang relevan dan jaminan bahwa mereka tetap dicintai.
  3. Kasih Sayang yang Konsisten: Di tengah badai, kasih sayang yang tulus dan konsisten adalah jangkar terpenting. Pastikan anak tahu bahwa mereka dicintai tanpa syarat, terlepas dari situasi yang terjadi pada orang tua.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, orang tua yang tidak berselingkuh dapat menjadi benteng pelindung bagi anak-anak mereka, membantu mereka melewati masa sulit ini dengan kekuatan emosional yang lebih baik.

Ingat, fokus utama adalah pada kesejahteraan anak dan memastikan mereka memiliki fondasi yang kuat untuk masa depan yang stabil. (*/tur)

Related Articles

Back to top button