Musim Kemarau Diprediksi Lebih Panjang, Pemko Palangka Raya Perkuat Antisipasi Karhutla

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Pemerintah Kota Palangka Raya mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung cukup panjang. Salah satunya melalui sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada masyarakat.
Kegiatan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya tersebut berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Pahandut, Senin (11/5/2026), dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, kelompok tani hingga unsur RT dan RW.
Plt Kepala DLH Kota Palangka Raya, Untung Sutrisno mengatakan, sosialisasi dilakukan sebagai langkah edukasi dan peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman karhutla di wilayah rawan kebakaran. “Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi karhutla di wilayah masing-masing,” ujar Untung, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, berdasarkan prediksi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga Agustus 2026 dengan kondisi cuaca yang lebih kering dibanding biasanya. “Musim kemarau diprediksi terjadi lebih awal dan berlangsung cukup panjang. Kondisi ini tentu meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Meski demikian, Untung mengungkapkan luas karhutla di Kota Palangka Raya dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan yang cukup signifikan berkat kolaborasi berbagai pihak dan meningkatnya kesadaran masyarakat. “Pada tahun 2023 luas karhutla mencapai 3.892,15 hektare, kemudian turun menjadi 26,08 hektare pada 2024 dan tahun 2025 tercatat sebesar 7,98 hektare,” ungkapnya.
Ia berharap capaian tersebut dapat terus dipertahankan dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan serta tidak membuka lahan dengan cara dibakar. “Capaian ini perlu dipertahankan dan terus ditingkatkan melalui partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan serta mencegah kebakaran lahan,” tegas Untung.
Selain berdampak pada lingkungan, ia mengingatkan karhutla juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi hingga memicu kabut asap yang berdampak luas terhadap daerah. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan demi mewujudkan Palangka Raya bebas asap,” tandasnya. (oiq)



