WALHI Kalteng Gelar Pemilihan Direktur Baru, Dua Aktivis Senior Jadi Kandidat Kuat

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Tengah menggelar pertemuan penting untuk menentukan arah perjuangan lingkungan hidup di Bumi Tambun Bungai. Sejak tanggal 30 Maret hingga 1 April 2026, WALHI Kalteng menyelenggarakan pemilihan fungsionaris wilayah di Palangka Raya.
Pemilihan ini bukan sekadar pergantian struktur, melainkan momentum krusial untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang kian kompleks di Kalimantan Tengah, mulai dari ancaman bencana ekologis hingga konflik agraria yang belum usai.

Agenda Lingkungan Mendesak Kalimantan Tengah
Direktur terpilih nantinya akan dihadapkan pada sejumlah raport merah dan agenda mendesak yang memerlukan tindakan taktis dan strategis:
Mitigasi Bencana Ekologis: Banjir dan Karhutla Kalteng terus dibayangi siklus banjir berulang dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Penataan ruang yang lebih memihak pada fungsi ekologis ketimbang ekspansi industri ekstraktif menjadi tuntutan utama.
Evaluasi Perizinan Industri Ekstraktif Penegakan hukum terhadap perusahaan sawit, pertambangan, dan HTI yang terbukti melanggar aturan lingkungan tetap menjadi agenda prioritas. WALHI terus mendorong pemerintah untuk melakukan audit lingkungan secara menyeluruh.
Perlindungan Masyarakat Adat dan Wilayah Kelola Rakyat (WKR) Mendorong pengakuan hak-hak masyarakat adat atas wilayahnya serta memperkuat model ekonomi komunitas melalui Wilayah Kelola Rakyat sebagai tandingan dari dominasi korporasi besar.
Transisi Energi dan Krisis Iklim Mengawal kebijakan pemerintah agar tidak terjebak dalam “solusi palsu” transisi energi yang justru berpotensi merusak lingkungan lokal demi ambisi pertumbuhan ekonomi semata.
Profil Kandidat Kuat Direktur WALHI Kalteng
Dua nama aktivis lingkungan senior muncul sebagai kandidat kuat yang akan bersaing menduduki jabatan Direktur Eksekutif WALHI Kalteng periode mendatang. Keduanya dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam advokasi di lapangan.
1. Ayu Kusuma Pertiwi
Ayu dikenal sebagai sosok aktivis yang gigih dalam isu-isu gender dan lingkungan. Ia memiliki fokus kuat pada keterkaitan antara kerusakan lingkungan dan dampaknya terhadap kelompok rentan, terutama perempuan di wilayah pedalaman Kalteng. Strategi advokasinya sering kali menitikberatkan pada penguatan basis komunitas dan edukasi literasi lingkungan bagi generasi muda.
2. Janang Firman Palanungkai
Janang merupakan figur yang sudah sangat akrab di dunia aktivisme Kalimantan Tengah. Sebagai praktisi advokasi hukum dan lingkungan, ia sering berada di garis depan dalam melaporkan pelanggaran lingkungan oleh korporasi kepada kementerian terkait. Janang dikenal dengan gaya bicaranya yang lugas dan pemahamannya yang mendalam mengenai peta konflik agraria di berbagai kabupaten di Kalteng.
Menanti Terobosan Baru
Siapa pun yang terpilih nantinya, publik berharap WALHI Kalteng tetap menjadi “benteng terakhir” bagi kelestarian hutan dan hak-hak masyarakat lokal. Di tengah ambisi pembangunan nasional yang masif, peran Direktur WALHI Kalteng akan sangat sentral dalam memastikan bahwa suara lingkungan tidak tenggelam oleh suara mesin industri. (*/tur)



