BeritaEkonomi BisnisNASIONAL

Pakar Desak Kemen LH Kaji Ulang Draf Baku Mutu Limbah Cair Kelapa Sawit

KALTENG.CO-Rencana pemerintah untuk memperketat aturan baku mutu Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) menuai sorotan tajam.

Rancangan peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Kemen LH) yang menggodok standar Biological Oxygen Demand (BOD) hingga di bawah 100 mg/l dinilai sebagai langkah yang kurang tepat jika tujuannya hanya untuk pembuangan ke badan sungai.

Peneliti Pusat Kajian, Advokasi, dan Konservasi Alam (Pusaka Alam), Gunawan Djajakirana, mendesak Kemen LH untuk mengkaji ulang draf tersebut. Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya mengabaikan pendekatan ekologi tanah, tetapi juga berpotensi mematikan praktik agronomi berkelanjutan di sektor sawit.

Paradigma “Limbah” vs “Nutrisi Organik”

Selama ini, LCPKS sering dipandang sebagai beban lingkungan. Namun, bagi pakar ilmu tanah seperti Gunawan, pandangan tersebut adalah paradigma lama yang tidak lagi relevan. LCPKS sejatinya adalah sumber pupuk organik alami yang luar biasa bagi pohon sawit.

“Fokus regulasi hanya pada angka BOD di bawah 100 mg/l itu keliru. Lingkungan tidak otomatis aman hanya karena BOD rendah. Jangan sampai kita menyia-nyiakan potensi LCPKS sebagai substitusi pupuk organik,” ujar Gunawan pada Senin (20/4/2026).

Bahaya Eutrofikasi di Balik BOD Rendah

Salah satu poin krusial yang sering luput dari perhatian adalah kandungan unsur hara. Meski angka BOD berhasil ditekan hingga sangat rendah, LCPKS tetap mengandung nitrogen, fosfor, kalsium, magnesium, dan kalium yang tinggi.

Jika limbah dengan volume besar dibuang ke sungai—meskipun BOD-nya rendah—unsur hara ini dapat memicu eutrofikasi atau ledakan pertumbuhan alga (algae blooming). Kondisi ini justru merusak ekosistem perairan dengan menghabiskan oksigen terlarut yang dibutuhkan biota sungai.

Krisis Bahan Organik Tanah di Indonesia

Alih-alih dibuang ke sungai, LCPKS seharusnya dikembalikan ke tanah. Saat ini, banyak perkebunan sawit di Indonesia mengalami krisis bahan organik akibat penggunaan pupuk sintetis jangka panjang, dengan rata-rata kandungan bahan organik di bawah 3 persen.

Manfaat pemanfaatan LCPKS ke lahan (Land Application):

  • Meningkatkan kesuburan tanah secara biologi, fisik, dan kimia.

  • Memperbaiki kapasitas simpan air dalam tanah.

  • Menekan emisi karbon dari proses produksi pupuk sintetis.

  • Mengurangi ketergantungan pada pupuk impor yang harganya kian melambung.

“Bahan organik bagi tanah itu seperti darah bagi manusia. Kalau kurang, sistemnya tidak bekerja optimal,” jelas doktor lulusan Goettingen Universitat tersebut.

Beban Operasional dan Daya Saing Industri

Pengetatan standar BOD hingga 100 mg/l juga membawa implikasi ekonomi yang berat. Perusahaan harus membangun rangkaian kolam pengolahan yang luas, yang memakan lahan produktif hingga belasan hektare dan membutuhkan energi listrik serta pompa yang besar.

Biaya produksi yang membengkak ini dikhawatirkan akan menurunkan daya saing sawit nasional di pasar global, tanpa memberikan manfaat lingkungan yang nyata, bahkan justru berpotensi meningkatkan emisi gas metan dari kolam-kolam terbuka.

Rekomendasi: Pendekatan Berbasis Dosis, Bukan Konsentrasi

Gunawan menilai prinsip agronomi yang benar adalah pengaturan dosis, bukan sekadar mengejar angka konsentrasi. LCPKS dengan BOD tinggi (misalnya 3.000–5.000 mg/l) tetap aman asalkan volume aplikasinya terukur.

Simulasi Aplikasi LCPKS Berbasis BOD:

Kadar BOD LCPKSDosis Rekomendasi per PohonFrekuensi
5.000 mg/l20 – 30 LiterPer bulan
10.000 mg/l10 – 15 LiterPer bulan

Dengan pendekatan ini, LCPKS berfungsi sebagai nutrisi bagi mikroorganisme tanah tanpa mencemari lingkungan.

Pemerintah diharapkan tidak sekadar meniru standar negara lain, seperti Malaysia, tanpa mempertimbangkan konteks geografis dan teknologi lokal. Kebijakan lingkungan seharusnya selaras dengan keberlanjutan ekonomi.

“Sawit itu ibarat ayam bertelur emas. Jangan sampai regulasi yang tidak tepat justru merusak kandangnya sendiri dan mematikan ayamnya,” pungkas Gunawan. (*/tur)

Related Articles

Back to top button