
KALTENG.CO-Momentum hangat penuh nilai sejarah terjadi di kediaman Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK) pada Minggu (10/5/2026).
Aktivis Muda Nasional yang juga pegiat anti korupsiĀ Muhammad Fithrat Irfan, menyambangi kediaman tokoh bangsa tersebut di Jalan Brawijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan formal antar-tokoh, melainkan sebuah simpul silaturahmi yang menghubungkan sejarah panjang keluarga besar Muhammadiyah dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari wilayah timur Indonesia ke panggung nasional.
Menyambung Historis Keluarga Muhammadiyah dan HMI
Muhammad Fithrat Irfan lahir dan tumbuh dari akar rumput organisasi Islam besar di Indonesia. Garis keturunannya memiliki peran sentral dalam penyebaran dakwah Muhammadiyah di Sulawesi.
Kakek buyutnya merupakan penerima mandat langsung dari KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) untuk mensyiarkan organisasi tersebut di Ujung Pandang (kini Makassar), khususnya di wilayah Bulukumba. Menariknya, kakek beliau yang bernama Karaeng Atjo Yahya Daeng Pagising adalah Raja Terakhir (Karaeng Kajang Sulewatang) di wilayah tersebut, yang memilih jalan dakwah untuk membawa Islam masuk ke tanah Bulukumba.
Jejak perjuangan ini diteruskan oleh nenek dari pihak ayah Irfan, Haji Zuhriah Intan. Beliau merupakan penceramah perempuan pionir yang bersama ibunda Jusuf Kalla, Haji Athira, bahu-membahu mendirikan organisasi perempuan Aisyiyah Muhammadiyah di Ujung Pandang.
Warisan Sang Ayah dan Kedekatan Emosional
Kedekatan Fithrat Irfan dengan Jusuf Kalla semakin kuat melalui rekam jejak almarhum ayahnya, Andi Baso Rustham Effendy. Sang ayah dikenal sebagai tokoh penting Muhammadiyah Sulawesi Tengah dan salah satu deklarator Perdamaian Malino untuk kerusuhan Poso.
“Almarhum bapak saya dan Bapak Jusuf Kalla adalah kader-kader terbaik Muhammadiyah dan HMI. Bapak saya juga merupakan murid kesayangan almarhum Bapak Rusdy Toana, tokoh kunci HMI di Sulawesi Tengah,” ungkap Irfan.
Sebagai Guru Besar sekaligus pendiri Tapak Suci Muhammadiyah di Sulawesi Tengah, Andi Baso telah mencetak ribuan murid berprestasi di Tanah Tadulako. Nilai-nilai perjuangan inilah yang kini diteruskan oleh Irfan dalam kiprahnya sebagai aktivis nasional.
Diskusi Kebangsaan dan Politik Nasional
Dalam pertemuan di Jalan Brawijaya tersebut, suasana cair terasa saat keduanya berdiskusi mengenai isu-isu strategis dan politik nasional. Irfan menegaskan bahwa bagi masyarakat Indonesia Timur, sosok Jusuf Kalla adalah simbol kehormatan sekaligus inspirasi besar selain almarhum BJ Habibie.
“Kami memiliki sejarah yang sangat kental. Sudah menjadi kewajiban bagi kami generasi muda untuk menyambung tali silaturahmi ini. Bapak Jusuf Kalla bukan hanya mantan Wapres, tapi orang tua bagi kami semua,” ujar Fithrat Irfan.
Lebih lanjut, Irfan menyatakan kekagumannya atas jasa JK sebagai juru damai di berbagai konflik di Indonesia Timur dan karier politiknya yang panjang tanpa cacat.
Pesan untuk Anak Muda Indonesia
Menutup pertemuan tersebut, Muhammad Fithrat Irfan menekankan pentingnya bagi anak muda Indonesia untuk memiliki semangat juang dan dedikasi seperti Jusuf Kalla.
“Saya sangat salut dengan prestasi dan jasa besar beliau bagi Republik ini. Anak muda Indonesia harus memiliki ketangguhan dan visi besar dalam mengabdi pada bangsa,” pungkasnya.
Pertemuan ini menjadi bukti bahwa estafet kepemimpinan dan nilai-nilai kebangsaan terus terjaga melalui dialog antar-generasi yang berlandaskan sejarah dan komitmen membangun negeri. (*/tur)




