BeritaMETROPOLIS

Pengakuan Dosa Sejarah: Paus Leo XIV Akui Takhta Suci Vatikan Pernah Legitimasi Perbudakan

KALTENG.CO-Pemimpin Gereja Katolik Sedunia, Paus Leo XIV, baru saja mengukir sejarah baru lewat pernyataan yang sangat signifikan.

Melalui ensiklik pertamanya yang bertajuk Magnifica Humanitas, Paus secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas keterlibatan langsung Takhta Suci Vatikan dalam melegitimasi praktik perbudakan dan kolonialisme selama berabad-abad silam.

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Langkah ini menjadi momentum perdana seorang Paus mengakui secara eksplisit bahwa otoritas tertinggi Gereja pada masa lalu turut andil dalam memberikan lampu hijau bagi penaklukan dan perbudakan masyarakat non-Kristen di wilayah Afrika dan benua Amerika.

Meskipun para pendahulunya pernah menyesali keterlibatan umat Kristen dalam perdagangan budak trans-Atlantic, baru kali ini institusi kepausan secara berani mengakui dosa struktural dari dalam Takhta Suci sendiri.

Isi Ensiklik Magnifica Humanitas: Luka dalam Ingatan Kristen

Berdasarkan laporan dari National Catholic Reporter (NCR), Paus Leo XIV—yang juga mengukir sejarah sebagai Paus pertama asal Amerika Serikat—menyebut rekam jejak kelam ini sebagai “luka dalam ingatan Kristen”. Menurutnya, sejarah tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari garis waktu perjalanan Gereja.

Paus menegaskan bahwa penindasan yang dialami para korban di masa lalu sangat mencederai nilai kemanusiaan. Beliau menuliskan:

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

“Mustahil untuk tidak merasakan duka mendalam ketika merenungkan penderitaan dan penghinaan luar biasa yang dialami begitu banyak orang, yang sangat bertentangan dengan martabat mereka sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan. Untuk itu, atas nama Gereja, saya dengan tulus memohon pengampunan.”

Menengok Dekret Resmi Kepausan Abad ke-15 yang Melegitimasi Kolonialisme

Dalam dokumen Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV secara berani membongkar kembali sejumlah bulla (dekret resmi kepausan) dari abad ke-15. Dekret-dekret inilah yang dulunya menjadi payung hukum bagi kerajaan-kerajaan Eropa untuk mengeksploitasi wilayah baru.

Beberapa dekret kontroversial yang menjadi sorotan antara lain:

  • Dum Diversas (1452): Diterbitkan oleh Paus Nicholas V, memberikan hak kepada Kerajaan Portugis untuk menaklukkan bahkan memperbudak kelompok yang dicap sebagai “pagan” dan “musuh Kristus”.

  • Romanus Pontifex (1455): Memperluas titah sebelumnya dan menjadi akar dari lahirnya Doctrine of Discovery (Doktrin Penemuan)—sebuah landasan ideologis yang dipakai bangsa Eropa untuk merampas tanah di Afrika dan Amerika.

Menurut catatan Pastor Jesuit Christopher J. Kellerman dalam bukunya All Oppression Shall Cease: A History of Slavery, Abolitionism, and the Catholic Church, legitimasi kolonial ini terus diperbarui oleh suksesi kepausan berikutnya, mulai dari Paus Callixtus III (1456), Paus Sixtus IV (1481), hingga Paus Leo X (1514). Di era yang sama, Kerajaan Spanyol juga memanfaatkan legitimasi serupa untuk menguasai belahan bumi Amerika.

Pengakuan Atas Keterlambatan Gereja

Meski Vatikan selalu menggaungkan misi pembelaan terhadap martabat manusia, Paus Leo XIV tidak menampik bahwa lembaga yang dipimpinnya terlambat mengambil sikap tegas dalam menghapus perbudakan. Beliau mengakui bahwa pada era modern awal, Takhta Apostolik Roma justru terseret dalam arus untuk “mengatur dan melegitimasi bentuk-bentuk penundukan.”

Namun, Paus juga mengajak dunia untuk melihat konteks zaman secara objektif tanpa harus sepenuhnya menghakimi masa lalu dengan kacamata moralitas modern.

“Namun kita juga tidak bisa menyangkal ataupun mengecilkan keterlambatan masyarakat maupun gereja dalam mengecam momok perbudakan,” tambah Paus.

Sebagai catatan sejarah, Paus Leo XIII baru secara gamblang mengutuk perbudakan pada tahun 1888. Langkah itu dinilai sangat terlambat karena banyak negara sekuler yang sudah menghapuskan praktik tersebut jauh sebelumnya. Bahkan, pada Abad Pertengahan, sejumlah institusi internal Gereja diketahui masih memiliki budak.

Dari Perbudakan Klasik hingga Eksploitasi di Era AI

Menariknya, ensiklik Magnifica Humanitas tidak hanya membahas masa lalu. Paus Leo XIV menarik benang merah sejarah tersebut dengan realitas modern: Industri Kecerdasan Buatan (AI).

Paus memperingatkan adanya risiko kolonialisme gaya baru dalam rantai pasok industri teknologi digital. Beliau menyoroti eksploitasi tenaga kerja dalam penambangan mineral langka yang menjadi komponen utama pembuatan chip AI.

“Gereja saat ini harus dengan tegas mengecam seluruh bentuk perdagangan manusia yang berkaitan dengan revolusi teknologi digital apabila kita tidak ingin kembali meminta maaf di masa depan,” tegas Paus Leo XIV.

Dimensi Pribadi dan PR Vatikan yang Tersisa

Bagi Paus Leo XIV, isu ini juga menyentuh ranah personal. Riset silsilah oleh sejarawan AS, Henry Louis Gates Jr., yang dimuat di The New York Times, mengungkap bahwa keluarga sang Paus memiliki ikatan darah yang kompleks di masa lalu Amerika Serikat—mencakup garis keturunan budak, mantan budak, sekaligus pemilik budak.

Meskipun pada tahun 2023 lalu Vatikan secara resmi telah menolak Doctrine of Discovery, momen permintaan maaf historis lewat ensiklik ini menyisakan satu pekerjaan rumah besar.

Hingga saat ini, Takhta Suci Vatikan secara administratif belum mencabut bulla-bulla kepausan abad ke-15 yang menjadi dasar awal mula munculnya doktrin kolonial tersebut.

Langkah berani Paus Leo XIV ini diharapkan membuka babak baru rekonsiliasi global sekaligus menjadi refleksi kritis bagi perkembangan teknologi di masa depan. (*/tur)

https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co       https://kalteng.co         https://kalteng.co       https://kalteng.co     https://kalteng.co    

Related Articles

Back to top button