BeritaKESEHATANLife StyleMETROPOLIS

Bukan Cuma Bikin Lapar, Ini Dampak Buruk Melewatkan Sarapan bagi Kesehatan Mental

KALTENG.CO-Ungkapan bahwa “sarapan adalah waktu makan terpenting dalam sehari” tentu sudah sering kita dengar. Sayangnya, tidak sedikit orang yang masih kerap melewatkan makan pagi—entah karena terburu-buru, ingin tidur lebih lama, atau sekadar merasa belum lapar.

Padahal, kebiasaan buruk ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga bisa memengaruhi suasana hati (mood) hingga produktivitas harian. Penelitian psikologi bahkan menunjukkan bahwa orang yang rutin melewatkan sarapan cenderung menampilkan pola perilaku dan sifat tertentu yang berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.

Mengutip dari YourTango, berikut adalah 4 ciri utama orang yang sering melewatkan sarapan ditinjau dari sudut pandang psikologi:

1. Lebih Mudah Terkena Mood Swings dan Emosi Tak Stabil

Secara biologis, tubuh kehabisan kadar gula darah (glukosa) setelah berpuasa semalaman saat tidur. Ketika Anda tidak segera mengisinya di pagi hari, otak kekurangan bahan bakar utama untuk berfungsi secara optimal.

Secara psikologis, kondisi ini memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Akibatnya, Anda menjadi lebih gampang sensitif, gampang marah (cranky), dan mengalami perubahan suasana hati secara drastis (mood swings) hanya karena pemicu sepele.

2. Penurunan Fokus dan Produktivitas Kerja

Sarapan memberikan asupan nutrisi awal yang dibutuhkan otak untuk berpikir jernih, mengingat, dan berkonsentrasi. Orang yang melewatkan sarapan cenderung mengalami fenomena brain fog atau linglung di pagi hari.

Dampaknya pada psikologi kerja sangat nyata: daya ingat jangka pendek menurun, rentang perhatian (attention span) memendek, dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi kurang efektif. Hal ini kerap membuat produktivitas di tempat kerja atau sekolah merosot tajam.

3. Kecenderungan Mengalami Stres dan Kecemasan Tinggi

Penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara pola makan tidak teratur dengan tingkat kecemasan (anxiety). Ketika tubuh merasa kekurangan energi, sistem saraf akan mengartikannya sebagai kondisi darurat atau ancaman.

Orang yang terbiasa melewatkan sarapan sering kali merasakan sensasi gelisah, cemas tanpa alasan jelas, hingga tingkat stres yang lebih tinggi sepanjang hari dibandingkan mereka yang memulai hari dengan nutrisi seimbang.

4. Pola Makan Tidak Terkontrol di Siang Hari

Dampak psikologis lainnya adalah munculnya kelaparan emosional (emotional eating). Saat membiarkan perut kosong terlalu lama di pagi hari, otak akan menuntut kompensasi energi yang besar saat waktu makan siang tiba.

Kondisi ini memicu kecenderungan memilih makanan tinggi gula, lemak, atau porsi berlebihan (overeating). Selain berdampak buruk bagi kesehatan fisik, pola makan impulsif ini sering kali menimbulkan rasa bersalah (guilt) setelahnya, yang berujung pada penurunan rasa percaya diri.

Melewatkan sarapan mungkin terlihat seperti kebiasaan sepele untuk menghemat waktu. Namun, dampaknya terhadap stabilitas emosi, produktivitas, dan kesehatan mental secara keseluruhan sangat signifikan.

Memulai hari dengan sarapan bergizi—meskipun dalam porsi kecil—adalah bentuk investasi sederhana untuk menjaga kesehatan pikiran dan tubuh Anda sepanjang hari. (*/tur)

Related Articles

Back to top button