BeritaHIBURANMETROPOLIS

Berawal dari Plagiarisme Riset, Dendam Peneliti Ini Picu Wabah Parasit di Film Colony (2026)

KALTENG.CO-Secara medis, seseorang akan dinyatakan meninggal saat otaknya tidak lagi menunjukkan fungsi aktivitas klinis. Namun, bagaimana jika sebuah organisme mikro mampu mengambil alih sistem saraf dan mengendalikan tubuh manusia layaknya boneka yang patuh pada perintah?

Konsep mengerikan inilah yang diangkat dalam film thriller sci-fi terbaru bertajuk Colony (2026). Berbeda dari kisah mayat hidup konvensional, film ini mengeksplorasi fenomena alami mengenai koloni jamur lendir (slime mold).

Dalam dunia sains, makhluk ini memiliki kemampuan berkomunikasi unik dengan menyebarkan sinyal kolektif antar-organisme hingga seluruh koloni bergerak secara harmonis di bawah satu komando.

Modus Balas Dendam Berujung Petaka Global

Dua alur cerita berpusat pada perseteruan dunia bioteknologi. Youngcheol (Koo Kyohwan), seorang peneliti alam, menyimpan dendam kesumat kepada Kang Woocheol (Kim Jeongtae), CEO perusahaan bioteknologi ternama. Woocheol diduga kuat telah mencuri dan memplagiat hasil riset berharganya tentang jamur lendir.

Kesempatan balas dendam muncul saat Woocheol menggelar presentasi besar di hadapan para investor dan klien penting. Di lokasi yang sama, hadir pula Kwon Sejeong (Jun Jihyun) atas undangan mantan suaminya, Han Gyuseong (Go Soo). Meski telah berpisah, dua profesor bioteknologi ini tetap berhubungan baik secara profesional. Gyuseong bermaksud membantu Sejeong yang baru saja kehilangan pekerjaannya di kampus untuk mendapatkan posisi di perusahaan Woocheol.

Kekacauan pecah usai presentasi. Woocheol yang panik mendapati keberadaan Youngcheol langsung kabur menuju ruang tunggu privat. Konfrontasi tak terelakkan. Sebelum sempat mengusirnya, leher Woocheol berhasil disuntikkan cairan misterius oleh Youngcheol.

Dampak zat tersebut bereaksi cepat. Woocheol mendadak muntah hebat, namun bukan sisa makanan yang keluar, melainkan busa kental berlendir yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya kejang terpelintir sebelum akhirnya bertransformasi menjadi agresif bak pengidap rabies dan menyerang siapa saja di sekitarnya.

Teror Wabah Lendir di Tengah Pusat Perbelanjaan

Gedung pertemuan yang terhubung langsung dengan mal megah mempercepat penyebaran infeksi. Setiap korban gigitan akan memuntahkan busa lendir serupa yang dengan cepat melapisi lantai, dinding, hingga fasilitas publik. Suasana sore hari yang ramai mendadak berubah menjadi arena perburuan manusia.

Di tengah kepanikan massal, Sejeong dan Gyuseong yang terjebak di area mal berhasil bertahan hidup berkat latar belakang keilmuan mereka. Kedua akademisi ini dengan cepat mengobservasi pola pergerakan para “zombie” yang ternyata tidak bergerak secara acak, melainkan dikendalikan oleh sinyal kolektif layaknya koloni jamur.

Sajian Sci-Fi Realistis dengan Isu Sosial Ketat

Colony (2026) berhasil menyegarkan genre zombie apocalypse dengan menyuntikkan landasan sains nyata yang dipadukan dengan resolusi logis berdasar hukum alam makhluk hidup berkelompok.

Tidak sekadar menjual aksi laga dan teror adegan berdarah, film ini juga kaya akan kritik sosial. Isu-isu sensitif seperti diskriminasi akademis, perundungan, plagiarisme karya ilmiah, hingga motif pembalasan dendam pribadi menjadi penggerak emosional utama dalam cerita.

Sejak perilisannya, Colony (2026) mendapat sambutan yang cukup hangat dari para kritikus maupun pencinta film. Film ini mengantongi skor 6.6/10 di IMDb, 87/100 di AsianWiki, 8/10 di MyDramaList, serta 68% Tomatometer di Rotten Tomatoes. Bagi Anda pencinta kisah survival dengan sentuhan teori konspirasi sains yang realistis, Colony menjadi tontonan yang sayang untuk dilewatkan. (*/tur)

Related Articles

Back to top button