FFI 2022: Peran Perempuan dalam Industri Film Tanah Air

Bintang utama Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak itu menegaskan bahwa ruang aman seharusnya tercipta di mana saja, tidak hanya di bidang perfilman. Namun, menurut Marsha, para sineas perempuan punya privilege. Lewat karya, mereka bisa menjadi pelantang bagi banyak perempuan lain yang suaranya terlalu lirih untuk didengar.
Prilly punya pendapat yang sama. Perempuan dan sinema, menurut dia, punya hubungan yang sangat lekat. Bahkan nyaris tak terpisahkan. ’’Perempuan perlu ada di perfilman. Karena karya perempuan itulah yang bisa menyerukan suara sesamanya. Seperti Yuni atau cerita Sur di Penyalin Cahaya,” papar aktris yang kini juga menjajal penyutradaraan itu.
Cut Mini, duta yang paling lama nyemplung dalam dunia akting, sangat berharap bahwa ragam kisah keresahan perempuan itu tidak hanya berhenti pada level memikat penonton karena produk yang bagus. Tapi, seharusnya bisa menggerakkan masyarakat untuk menciptakan perubahan yang positif.
’’Bisa dibilang, yang kami lakukan ini adalah gimana mengangkat isu tersebut dan mengajak masyarakat menghentikannya agar tidak berlangsung lebih jauh,” paparnya.
Shenina menambahkan bahwa dalam industri film, perempuan memegang peran kunci. Aktris yang mengambil studi perfilman sejak bangku SMK itu menegaskan, perempuan bukan sekadar pemanis dalam film dan industrinya.
Pemeran Sur dalam Penyalin Cahaya itu mengakui, secara kuantitas, jumlah laki-laki di industri film memang masih lebih besar. Tapi, itu tidak berarti bahwa perempuan tidak mampu. Perempuan mampu mengemban tugas-tugas yang tidak identik dengan gender mereka. Bukan hanya di tata rias atau tata busana.
’’Perempuan juga bisa ada di posisi DoP (director of photography, Red) atau lighting. Harapanku sih, semoga industri film tidak hanya jadi milik satu gender,” tegas Shenina.




