AKHIR PEKANBeritaMETROPOLISOPINIUtama

Mengarang Dunia

Interpretasi itu bisa salah sasaran. Seolah kalau tak takut anjing, atau bisa melumpuhkan anjingnya, memberi undangan untuk mencuri. Atau mendorong orang yang jahat untuk awas terhadap kamera CCTV. Hubungan dunia karangan ini dengan realitas ternyata tak selalu seindah yang dibayangkan.

Demikianlah senjata nuklir dan senjata pemusnah massal milik negara-negara besar juga tak selalu menciptakan kedamaian. Yang ada, bukankah karena mengarang-ngarang perang besar yang ”mungkin” terjadi, mereka malah terus menciptakan senjata-senjata baru?

Lalu, senjata-senjata ini bukankah tetap harus dipakai? Selain agar tak berkarat dan kedaluwarsa, tentu saja biar mereka menciptakan senjata baru. Akhirnya mereka bisa menciptakan perang-perang di negara-negara yang lebih kecil, yang tak punya daya untuk memberi ancaman sekelas nuklir.

Tak hanya itu, yang terjadi sering kali mereka juga menciptakan simulasi jenis lain: perang antara negara superpower, tapi dibungkus seolah-olah perang dua negara kecil, atau sekadar pinjam tempat di satu negara lemah. Negara besar kirim senjata, negara kecil yang babak belur.

Negara juga bisa disebut dunia karangan. Di sebuah negara seperti Indonesia, demokrasi merupakan simulasi bagaimana rakyat, kita semua, ”memiliki” negara ini. Dengan cara apa? Dengan cara menggelar rapat besar yang disebut pemilu.

Negara merupakan gambaran nyata bagaimana dunia yang digambarkan dan kenyataan sering kali tak bersesuaian. Keputusan presiden, bapak-bapak anggota dewan, gubernur, bupati, secara hukum merupakan keputusan kita semua karena kita memilih mereka untuk membuat keputusan. Tak peduli kamu suka atau tidak.

Salah satu yang bisa kita lakukan adalah terus-menerus merobek-robek dunia yang diciptakan itu. Terus-menerus mengatakan lapar kalau memang lapar, meskipun angka-angka pertumbuhan ekonomi membubung naik cemerlang.

Kalau mau lebih kreatif: kita juga bisa membuat simulasi tandingan. Misalnya, dunia bisa damai tanpa nuklir. Atau, negara cuma milik segelintir orang, lho. (*)

EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016 (Dikutip dari JawaPos.com/tur)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button