ALL SPORTBeritaNASIONALSportUtama

Lolos Piala Dunia U-20, Timnas Isreal Menghadapi Penolakan di Indonesia, Bagaimana Sikap Kemenpora

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menuturkan, lolosnya Israel ke Indonesia harus diterima dan difasilitasi dengan baik. ”Ini olahraga ya. Ada yang mengatur. Pertandingan sepak bola diatur oleh FIFA. Sehingga setiap negara yang mau menjadi tuan rumah diminta pengertiannya,’’ katanya.

Zainudin menuturkan, untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, sejak awal disyaratkan memiliki jaminan pemerintah. Untuk memastikan siapa saja negara yang lolos dan berhak tampil di negara tuan rumah.

Selain itu, pihaknya akan mematuhi peraturan FIFA. Sebab, yang menentukan setiap negara boleh bermain atau tidak itu adalah FIFA. ”Kita sebagai tuan rumah harus ikuti apa yang digariskan oleh FIFA.

Apalagi, Indonesia sudah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah. Salah satu konsekuensinya adalah kesiapan untuk menampung negara mana saja yang lolos. Oleh sebab itu, menurut dia, masalah tersebut sudah sangat jelas.

Lantas, apakah ada imbauan untuk bermain di Bali agar lebih kondusif? Untuk itu, Zainudin memercayakan sepenuhnya kepada pihak keamanan. ”Saya kira namanya main di Indonesia ya di mana saja. Dari 2019 sudah bahas itu. Kementerian Luar Negeri menyampaikan karena ketentuan FIFA tidak bisa tolak,’’ ujarnya.

Menurut dia, jika nanti Israel tidak bisa bermain, hal itu akan merusak kepercayaan dunia kepada Indonesia. Dalam hal ini, National Olympic Committee dan lembaga internasional lainnya.

”Bukan hanya itu (kans bidding Olimpiade), hal-hal lain yang berkaitan dengan menjadi tuan rumah dan ada negara lain menjadi peserta bakal menjadi pertimbangan,’’ katanya.

Indonesia sebenarnya pernah punya pengalaman menangani atlet Israel yang bertanding di sini. Sebuah pengalaman yang jelimet.

Persisnya di Kejuaraan Dunia Badminton 2015 di Istora Senayan, Jakarta. Wakil Israel saat itu adalah Misha Zilberman. ”Persyaratan bahwa semua pemain lolos dan jadi anggota BWF (Federasi Badminton Dunia) harus diperbolehkan jadi peserta di kejuaraan dunia,” ujar Achmad Budiharto, ketua panitia penyelenggara ketika itu, saat dihubungi tadi malam.

Tidak adanya hubungan diplomatik di antara kedua negara menjadi salah satu kesulitan terbesar. Budi, sapaan Achmad Budiharto, mengenang, tanpa visa masuk Indonesia, Misha tertahan di Singapura.

”Ya, stres tinggi lah waktu itu. Dia dapat visanya dari negara tetangga, yaitu Singapura,” ujarnya.

Budi masih ingat bagaimana dirinya mendapat tekanan dari kelompok ”kanan” yang tidak menginginkan hadirnya atlet Israel ke Indonesia. Bahkan sempat ada ancaman pembunuhan.

Karena itu, pengamanan ekstraketat dilakukan ketika akhirnya Misha tiba di Indonesia sekitar 11 jam sebelum dirinya tampil. ”Dari bandara hingga ke Hotel Sultan ada pengawalan ketat. Kalau nggak salah, dia ditempatkan di lantai tertinggi Hotel Sultan dan juga dapat pengamanan ekstra,” ungkap Budi yang di PBSI kala itu menjabat wakil Sekjen.

Jam bertanding Misha juga diatur dengan bermain pada pukul 09.00 WIB yang di luar jadwal biasanya. Tujuannya jelas, menghindari kerumunan penonton. ”Kami juga bicara khusus dengan manajer lawannya,” ujarnya.

Saat itu Misha menghadapi atlet Taiwan Hsu Jen Hao di babak 32 besar. Dia kalah dua game langsung (14-21, 14-21). Setelah Misha kalah, barulah bendera seluruh negara peserta dinaikkan. (Dikutip dari JawaPos.com/tur)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button