BeritaNASIONALUtama

Bayang-Bayang Kekeringan Ekstrem: El Nino Kuat Diprediksi Bertahan Hingga Awal 2027

KALTENG.CO-Indonesia diproyeksikan akan menghadapi tantangan iklim yang cukup berat dalam jangka panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan bahwa fenomena El Nino kategori kuat diprediksi masih bertahan hingga kuartal pertama tahun 2027.

Ancaman ini berpotensi makin kompleks dengan hadirnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif yang diperkirakan aktif pada rentang September hingga Desember 2026. Kombinasi dinamika atmosfer ini berisiko memperparah dampak kekeringan serta memicu lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.

Puncak Musim Kemarau dan Catatan Hari Tanpa Hujan

Memasuki pertengahan tahun, mayoritas wilayah Indonesia telah secara bertahap memasuki periode musim kemarau. Data BMKG mencatat lebih dari separuh Zona Musim (ZOM) di Indonesia sudah terdampak cuaca kering, di mana puncak kemarau diproyeksikan meluas pada bulan Agustus dan September.

Sebagian besar daerah diperkirakan menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang serta kondisi yang lebih kering dari biasanya.

Catatan Rekor HTH:

Salah satu titik terdampak paling signifikan terdeteksi di wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang mencatatkan durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 80 hari berturut-turut.

Secara umum, potensi curah hujan dengan kategori tinggi diprediksi baru akan muncul secara bertahap pada kurun waktu Oktober hingga November.

Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Wilayah Rawan Karhutla

Dampak langsung dari kekeringan panjang adalah meningkatnya titik panas (hotspot) di sejumlah kawasan rawan. Pantauan BMKG mengidentifikasi ribuan titik panas yang tersebar di wilayah Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.

Kewaspadaan ekstra diimbau untuk beberapa daerah yang menjadi fokus pemantauan karhutla, antara lain:

  • Sumatra: Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi.

  • Kalimantan: Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

  • Papua: Papua Selatan.

Di kawasan Kalimantan Barat, pergerakan partikulat asap tipis akibat karhutla bahkan sudah mulai terpantau melalui citra satelit.

Langkah Proaktif BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

Menanggapi potensi krisis hidrometeorologi ini, BMKG mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi terpadu. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan pentingnya intervensi awal untuk menekan risiko bencana yang lebih luas.

“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” ujar Teuku Faisal Fathani.

Melalui penyemaian awan, OMC tidak hanya difokuskan untuk memicu hujan di area rawan karhutla, tetapi juga diarahkan untuk mengisi cadangan air pada waduk dan danau strategis, seperti di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, hingga DAS Mamasa.

Imbauan Sektor Pertanian, Kesehatan, dan Ekonomi

Menghadapi ancaman kemarau panjang, berbagai sektor diimbau untuk segera melakukan langkah penyesuaian:

  • Sektor Pertanian & Energi: Petani disarankan menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas tanaman tahan kering. Pengelola pembangkit listrik (PLTA) dan penyedia air baku juga perlu mengkalkulasi ketersediaan pasokan secara cermat.

  • Sektor Kesehatan: Masyarakat diminta mewaspadai risiko penyakit saluran pernapasan (ISPA) akibat penurunan kualitas udara, serta ancaman paparan suhu panas berlebih (heat-stroke).

  • Peluang Sektor Usaha: Di sisi lain, cuaca cerah yang panjang ini memberi peluang optimasi bagi industri tambak garam dan sektor perikanan tangkap akibat munculnya fenomena upwelling di laut. (*/tur)

Related Articles

Back to top button