BeritaGaleriLife StyleMETROPOLIS

Bedah Memoar “Broken Strings” Aurelie Moeremans: Waspada Jebakan Child Grooming!

KALTENG.CO-Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan oleh pengakuan berani aktris Aurelie Moeremans. Melalui memoarnya yang berjudul “Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah”, Aurelie mengungkap kisah pahit masa lalunya yang menjadi korban child grooming.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi masyarakat bahwa kekerasan seksual tidak selalu diawali dengan paksaan fisik, melainkan manipulasi psikologis yang sangat halus. Lantas, apa itu child grooming dan bagaimana cara melindunginya?

Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah upaya sistematis yang dilakukan seseorang (biasanya orang dewasa) untuk membangun ikatan emosional dengan anak atau remaja guna mempermudah eksploitasi seksual di kemudian hari.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, menjelaskan bahwa praktik ini berakar pada perilaku manipulatif. Untuk memahaminya, kita perlu menilik teori Grooming Mode (SGM) yang dicetuskan oleh Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic.


5 Tahapan Child Grooming yang Perlu Diwaspadai

Menurut Yuan, pelaku tidak bergerak secara instan. Mereka mengikuti pola-pola tertentu untuk menjerat korbannya:

1. Memilih Target yang Rentan

Pelaku mengincar individu yang lemah secara psikologis. Ciri-cirinya antara lain:

  • Anak yang penurut atau kesepian.
  • Kurang perhatian dari orang tua.
  • Membutuhkan kasih sayang atau validasi lebih.
  • Memiliki masalah perilaku di sekolah atau rumah.

2. Membangun Akses dan Isolasi

Pelaku mulai masuk ke kehidupan korban melalui interaksi yang intens. Tujuannya adalah menjauhkan korban dari lingkaran sosial aslinya agar korban hanya bergantung pada pelaku.

3. Membangun Kepercayaan (Trust Building)

Pada tahap ini, pelaku akan bersikap sangat baik, perhatian, dan royal. Korban dibuat percaya bahwa pelaku adalah satu-satunya orang yang mengerti dan mendukung mereka.

4. Normalisasi Konten Seksual

Setelah memegang kendali emosi, pelaku mulai memperkenalkan konten seksual atau kontak fisik secara bertahap. Tujuannya agar korban merasa bahwa paparan kekerasan tersebut adalah hal yang “wajar” dan “normal” dalam hubungan mereka.

5. Pembungkaman dan Ancaman (Maintenance)

Setelah kekerasan terjadi, pelaku akan menjaga hubungan agar tidak terbongkar. Caranya bisa melalui “hadiah” (kompensasi) atau ancaman yang membuat korban merasa bersalah dan takut untuk melapor.

“Korban sering kali mengalami kebingungan dan merasa tidak berhak mempertanyakan pengalaman buruknya. Mereka merasa ada yang salah, tapi tidak mampu melakukan apa-apa karena ketergantungan penuh pada pelaku,” ujar Yuan Yovita.


Cara Mencegah Child Grooming: Peran Orang Tua dan Lingkungan

Mencegah child grooming memerlukan kerja sama kolektif antara keluarga dan lingkungan sekitar. Berikut adalah langkah-langkah mitigasi yang bisa dilakukan:

  • Edukasi Seksualitas Sejak Dini: Ajarkan anak mengenai bagian tubuh mana yang bersifat privat dan tidak boleh disentuh oleh siapa pun.
  • Bangun Komunikasi Terbuka: Ciptakan ruang aman di rumah. Pastikan anak merasa nyaman menceritakan apa pun—termasuk hal yang memalukan—tanpa takut dihakimi.
  • Kenali Lingkaran Pertemanan Anak: Orang tua perlu waspada jika ada orang dewasa yang memberikan perhatian berlebih atau hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada anak.
  • Peka Terhadap Perubahan Perilaku: Jika anak tiba-tiba menjadi tertutup, murung, atau menunjukkan kecemasan berlebih terhadap sosok tertentu, segera lakukan pendekatan.

Kisah Aurelie Moeremans dalam “Broken Strings” bukan sekadar curhatan masa lalu, melainkan edukasi penting tentang betapa bahayanya manipulasi di balik kedok kasih sayang.

Kita perlu lebih peduli dan berani menelisik jika melihat interaksi yang tidak wajar antara orang dewasa dan anak di sekitar kita.

Mari lindungi generasi muda dari jeratan predator seksual dengan lebih peka dan komunikatif. (*/tur)


KADIN KALTENG
https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button