Trump Ancam Naikkan Tarif Dagang Eropa demi Greenland, Apa Dampaknya?

KALTENG.CO-Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark kembali mengguncang stabilitas politik dan ekonomi global.
Langkah ini bukan sekadar isu teritorial, melainkan telah berkembang menjadi perang dagang terbuka yang mengancam hubungan transatlantik yang sudah terjalin puluhan tahun.
Di tengah upaya negara-negara Eropa memperkuat keamanan di Arktik, Trump meluncurkan manuver agresif dengan mengancam kenaikan tarif dagang terhadap delapan negara Eropa, termasuk Inggris, Norwegia, dan enam anggota Uni Eropa (UE).
Tarif Dagang: Senjata Trump Melawan Sekutu Arktik
Ancaman tarif baru ini dinilai sebagai pukulan telak bagi kesepakatan dagang yang sebenarnya baru saja dirajut pada musim panas lalu. Menariknya, negara-negara yang menjadi sasaran tarif adalah mereka yang aktif mendukung atau mengirim pasukan ke Greenland untuk memperkuat keamanan kawasan Arktik.
Langkah ini dianggap sebagai upaya intimidasi untuk membungkam penolakan Eropa terhadap ambisi AS atas Greenland. Namun, kali ini strategi Trump berpotensi menjadi bumerang.
Reaksi Keras Pemimpin Eropa
Para pemimpin Uni Eropa menunjukkan perlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada praktik perundungan (bullying) atau pemerasan politik.
Di Parlemen Eropa, situasi kian memanas:
- Penundaan Ratifikasi: Pembahasan kesepakatan dagang AS–UE kemungkinan besar akan ditunda.
- Boikot Blok Politik: Dua blok suara terbesar, Partai Rakyat Eropa (EPP) serta Sosialis & Demokrat (S&D), menyatakan perjanjian tidak dapat disetujui dalam kondisi penuh tekanan.
- Sentimen “Fondasi Pasir”: Blok liberal Renew menilai kesepakatan yang dibuat Trump sejak awal sangat rapuh karena dibangun di atas dasar yang tidak kokoh.
Nasib Tarif 0 Persen yang Terancam Batal
Salah satu poin krusial dalam konflik ini adalah nasib tarif nol persen untuk produk-produk Amerika Serikat di pasar Eropa. Meskipun AS sudah memberlakukannya, Uni Eropa belum meratifikasi aturan ini secara hukum.
Manfred Weber, pemimpin EPP, menyatakan secara tegas bahwa persetujuan tidak mungkin dilakukan selama ancaman terhadap Greenland masih ada. Hal senada diungkapkan oleh Kathleen Van Brempt dari S&D, yang menyebutkan bahwa negosiasi dagang mustahil berlanjut dalam suasana intimidasi.
Perbandingan Tarif Saat Ini
| Produk | Status Tarif Inggris-AS | Status Tarif UE-AS |
| Baja | 25% | 50% |
| Otomotif & Kedirgantaraan | Sudah Berlaku (Terbatas) | Terancam Ditangguhkan |
| Produk Konsumsi (Salmon/Porselen) | Tetap 10% | Terancam Naik |
Taktik Negosiasi atau Ancaman Nyata?
Peneliti senior dari Institut Studi Internasional Denmark, Mikkel Runge Olesen, menilai bahwa ancaman ini adalah reaksi langsung atas pengerahan pasukan Eropa ke Greenland.
“Ini hanyalah taktik negosiasi. Kita mungkin tidak akan pernah melihat pasukan AS benar-benar menduduki Greenland, tetapi Trump menggunakan tarif untuk memecah belah suara Eropa,” ungkap Olesen.
Namun, strategi ini justru menyatukan Uni Eropa. Kepala diplomasi UE, Kaja Kallas, memberikan sindiran tajam dengan menyebut bahwa perpecahan antara AS dan sekutunya hanya akan menguntungkan pihak luar seperti Rusia dan Tiongkok.
Retaknya Fondasi Transatlantik
Langkah Trump yang kembali menggunakan senjata tarif menunjukkan bahwa setiap kesepakatan dengannya bersifat sangat rapuh.
Dengan menangguhkan kesepakatan investasi teknologi senilai 31 miliar poundsterling dan mengancam tarif baja, Washington tampak lebih memilih jalur konfrontasi daripada kolaborasi.
Eropa kini berada di persimpangan jalan: mempertahankan kedaulatan Arktik dan Greenland, atau menyerah pada tekanan ekonomi demi stabilitas dagang.
Satu hal yang pasti, ambisi Trump atas Greenland telah mengubah peta aliansi global secara permanen. (*/tur)



