Brigjen Ida: Bukan Karena Saya Perempuan, Tapi Kompetensi Sebagai Wakapolda

“Saya punya komitmen yang kuat mengikuti Kapolda, karena sangat energik dan kreatif. Kemudian saya harus menjalankan apa yang telah dicanangkannya. Tidak ada yang bisa bekerja sendiri, bahasa sekarang adalah kolaborasi. Itu adalah kata kuncinya untuk Completed The Missions terhadap empat program kerja tadi,” tukasnya.
Untuk seluruh perempuan di Indonesia, Ida menyebutkan agar selalu berkarya, meningkatkan kemampuan dan jangan lupa berbagi dengan sesama kaum hawa.

“Semangat itu ditunjukkan dengan kinerja, maka dari hasil itu akan menginspirasi banyak orang. Tugas kami adalah memberikan inspirasi kepada banyak orang untuk membangun sesuatu menjadi lebih baik. Saya yakin Kalteng akan menjadi lebih baik dengan cara berkolaborasi dengan semua pihak,” paparnya.
Berkenaan dengan perempuan yang terlibat dengan kasus hukum, kebetulan dirinya berpengalaman dalam penanganan kasus perempuan dan anak (PPA), termasuk salah satu yang menginisiasi pembangunan Women Crisis Center pertama di Indonesia.
Hal itu menjadi salah satu program Kapolri, bukan hanya bagi disabilitas, tetapi juga bagi perempuan-perempuan baik yang Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) maupun perempuan berhadap dengan hukum (PBH).
“Ini menjadi atensi juga, anggota Polri yang bekerja dibidang tersebut harus memahami betul bagaimana melakukan tugasnya berkenaan dengan ABH dan PBH, baik sebagai tersangka, korban dan saksi,” pungkasnya. (oiq)



