Budaya Dayak Harus Diangkat, Sendratari “Rubui Manawang” Sukses Pukau Masyarakat

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Upaya pelestarian dan pengangkatan budaya lokal kembali mendapat sorotan. Sekretaris Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Rana Muthia Oktari, menegaskan pentingnya menghadirkan lebih banyak ruang bagi seni dan budaya Dayak agar terus hidup dan dikenal luas oleh generasi muda.
Hal tersebut disampaikannya menyusul suksesnya pergelaran sendratari “Rubui Manawang” yang berarti “Pintu Kebahagiaan”. Pertunjukan tersebut berhasil menyedot perhatian masyarakat dan mendapat antusiasme tinggi dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua.
Menurut Rana, kesuksesan acara ini menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki daya tarik yang kuat jika dikemas secara kreatif dan modern tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisionalnya. Ia menilai, kegiatan seperti ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya yang efektif.
“Budaya Dayak harus terus kita angkat dan tampilkan di ruang publik. Pergelaran seperti sendratari Rubui Manawang ini menjadi contoh nyata bagaimana warisan budaya bisa dikemas menarik dan diterima masyarakat luas,” ujarnya, Selasa(28/4/2026).
Ia juga mendorong pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih aktif mendukung kegiatan seni budaya, baik melalui pembinaan komunitas, penyediaan fasilitas, maupun agenda rutin yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Rana menekankan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, seniman, komunitas, dan masyarakat agar budaya Dayak tetap lestari di tengah arus modernisasi.
“Kalau kita tidak bergerak bersama, budaya kita bisa tergerus zaman. Justru melalui kegiatan seperti ini, kita memperkuat identitas daerah sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri,” tambahnya.
Pergelaran “Rubui Manawang” sendiri dinilai berhasil menghadirkan harmoni antara seni tari, musik tradisional, serta cerita yang sarat makna filosofis. Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin sebagai bagian dari penguatan budaya lokal di Kota Palangka Raya. (bam)



