AKHIR PEKANBeritaMETROPOLISTechno

Bukan Lagi Chatbot, Raksasa Teknologi Global Kini Berlomba Ciptakan ‘Otak Robot’

KALTENG.CO-Dunia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sedang mengalami pergeseran kiblat secara besar-besaran. Jika dalam dua tahun terakhir linimasa kita dipenuhi oleh kompetisi sengit antarmodel bahasa besar (LLM) dan chatbot pintar yang adu keren di dalam layar digital, kini peta persaingan telah berpindah ke dunia nyata.

Raksasa teknologi global—dipelopori oleh konglomerat teknologi asal Tiongkok seperti Alibaba dan Tencent—kini mulai memindahkan fokus mereka ke era baru yang disebut Embodied AI atau Physical AI.

Gambar Kiri Gambar Kanan

Ini bukan lagi soal AI yang pintar menjawab pertanyaan atau membuat puisi, melainkan tentang sistem kecerdasan digital yang memiliki “tubuh” fisik. Teknologi ini dirancang untuk mampu mengendalikan robot, bernavigasi secara mandiri, menghindari rintangan, hingga melakukan pekerjaan fisik yang rumit langsung di lingkungan nyata manusia.

Lompatan Alibaba: Dari Model Bahasa Menuju Kendali Robotik

Langkah konkret transformasi ini terlihat dari gebrakan terbaru Alibaba Group Holding. Perusahaan baru saja memperkenalkan model AI mutakhir mereka bernama Qwen3.7-Max. Menariknya, model ini dipersenjatai dengan kemampuan tool-calling tingkat tinggi.

Apa itu fitur tool-calling? Secara sederhana, fitur ini bertindak sebagai jembatan yang memungkinkan AI memanggil, memerintah, dan menjalankan berbagai perangkat lunak maupun perangkat keras eksternal secara otomatis.

Dalam implementasinya, Qwen3.7-Max berfungsi sebagai “otak digital” terpadu. Alibaba mengonfirmasi bahwa model ini siap diadopsi untuk mengendalikan robot melalui koordinasi tindakan fisik yang presisi, mulai dari perencanaan tugas, navigasi area, hingga kemampuan sensorik menghindari hambatan di lapangan.

Tidak berhenti di sana, Alibaba juga meluncurkan ekosistem pendukung robotika yang masif, meliputi:

  • Agen Robotic Gripper: Sistem AI untuk mengoptimalkan kemampuan mencengkeram objek.

  • Model Navigasi Spesifik: Algoritma khusus untuk pergerakan di ruang fisik.

  • Sistem Vision-Language: Teknologi yang membuat robot mampu “melihat” dan menginterpretasikan lingkungan sekitar secara real-time.

Tencent dan Framework OpenClaw: Terjemahkan Suara Menjadi Gerakan

Tidak mau kalah start, Tencent turut mengencangkan gas dalam pengembangan embodied AI melalui framework berskala global yang dinamakan OpenClaw AI agent.

Langkah Tencent ini langsung disambut hangat oleh industri manufaktur robotika. Startup embodied AI terkemuka, Zeroth, mengumumkan bahwa robot humanoid andalan mereka, M1, resmi menjadi robot produksi massal pertama di dunia yang mengintegrasikan sistem OpenClaw milik Tencent.

Berkat integrasi ini, robot humanoid M1 mampu menerjemahkan perintah suara manusia secara instan (real-time) menjadi tindakan gerak fisik yang mulus tanpa perlu proses pemrograman manual yang rumit.

Pakar teknologi sekaligus Kepala Data Officer Tianyu Shuke, Wu Bangyi, menjelaskan bahwa jika beberapa tahun lalu industri AI habis-habisan menyelesaikan masalah di dunia digital, kini masanya telah berubah.

“Inti dari physical AI adalah memungkinkan kecerdasan buatan berevolusi dari sekadar kecerdasan kognitif (berpikir) menuju kecerdasan tindakan (bertindak),” ungkap Wu Bangyi.

Hambatan Terbesar: Krisis Data Dunia Nyata

Meskipun potensi pasarnya diprediksi oleh lembaga keuangan seperti UBS akan bernilai sangat fantastis dalam dekade mendatang, jalan menuju komersialisasi total embodied AI tidaklah instan. Industri ini menabrak satu dinding penghalang besar: kelangkaan data interaksi dunia nyata berkualitas tinggi.

Riset dari Goldman Sachs mengonfirmasi bahwa melatih AI untuk bergerak di dunia fisik jauh lebih sulit daripada melatih AI teks. Perbandingannya sangat kontras:

Aspek PengembanganVolume Data Pelatihan
Model Teks Berbasis GPT-5 10 Miliar Jam Data Digital
Industri Robotika Global (Saat Ini) 500 Ribu Jam Data Fisik

Sederhananya, AI kekurangan referensi pengalaman mengenai bagaimana rasanya menyentuh benda, mengukur gravitasi, atau merespons lantai yang licin.

Strategi Jemput Bola: Berburu Data di Sektor Domestik

Menyiasati kelangkaan data tersebut, sejumlah perusahaan teknologi dan robotika mulai melakukan eksperimen langsung di lapangan guna mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.

Salah satu contoh unik dilakukan oleh startup bernama X Square Robot. Mereka meluncurkan layanan pembersihan rumah berbasis robot di kota-kota besar seperti Beijing dan Shenzhen. Sembari membantu membersihkan rumah warga, robot-robot ini secara aktif merekam dan mengumpulkan data interaksi nyata—mulai dari tekstur perabotan hingga tata ruang rumah—yang nantinya dipakai untuk melatih AI agar semakin cerdas.

Keseriusan ini diperkuat oleh laporan Embodied AI Development Report hasil kolaborasi China Academy of Information and Communications Technology dan Universitas Tsinghua. Saat ini, tercatat ada hampir 30 fasilitas pelatihan dan pusat data khusus embodied AI yang telah beroperasi maupun sedang dibangun.

Pergeseran tren dari ruang obrolan (chatbot) menuju aksi nyata di lapangan ini menjadi sinyal kuat: siapa pun yang berhasil menguasai teknologi embodied AI, merekalah yang akan memimpin peta peradaban teknologi di masa depan. (*/tur)

Related Articles

Back to top button