Dampingi Anak Saat Memilih Jurusan, Diskusi Boleh, Jangan Maksa

Dengan Begitu, Mereka Enjoy Dan Bisa Berprestasi
Ika menyampaikan, saat anak melakukan sesuatu, orang tua bisa berpaku terhadap pedoman 4E. Yakni, enjoy (anak menikmati kegiatannya), easy (anak mudah mengerjakannya), excellent (hasil yang dikerjakan anak memuaskan), dan earn (menghasilkan uang).
Terpisah, Audre Gracia, 43, mengungkapkan pernah berdebat sengit dengan buah hatinya saat menentukan jurusan di bangku SMA. Anak bungsunya, Lili, menyerahkan pilihan kepada sang mama.

Itu justru membuat Audre kelimpungan. Ibu tiga anak tersebut tak ingin putrinya tidak punya pilihan sendiri. ’’Akhirnya, saya memutuskan oke kamu ambil jurusan IPA seperti koko (kakak, Red),’’ kenangnya.
Namun, pilihan Audre ditolak mentah-mentah. ’’Katanya terserah mama, sekarang dikasih pilihan nggak mau. Kamu mau pilih apa,’’ ucapnya balik ke Lili. Audre menyadari jika kemampuan anak bungsunya tak sama dengan si sulung dan anak keduanya. Lili lebih berbakat dalam diplomasi, cenderung lemah dalam angka.
Ternyata, Lili mengungkapkan, dia takut ortunya kecewa jika dirinya memilih IPS sejak awal. Dari situ, Audre mulai berubah dan mengevaluasi diri. ’’Sejak Lili SMP itu, saya merasa terlalu menekan. Kalau SMA, harus IPA dan kuliah jurusan sains, eh malah membuat Lili tak percaya diri,’’ ujarnya.
Lain halnya dengan Audre, Heni Kuswati memberikan kebebasan kepada anaknya untuk mengambil jurusan IPA atau IPS. Sebab, menurut dia, anaklah yang memahami kemampuan diri nya sendiri.
Bukan hanya soal jurusan, menentukan aktivitas lain juga di serahkan kepada anak. Misalnya, wushu atau kickboxing. ’’Dengan begitu, mereka enjoy dan bisa berprestasi di bidang yang mereka pilih. Saya bersyukur,’’ ujarnya.
NGOBROLIN PILIHAN JURUSAN BARENG ANAK
– ”Kak/Dik, sudah yakin dengan jurusan itu? Ke depan, Kakak pengin seperti apa setelah mengambil jurusan itu?” Dengarkan pandangan anak mengenai jurusan yang di pilih. Dengan begitu, anak merasa orang tua menghargai pendapatnya.
– Cari tahu alasan anak memilih jurusan tersebut. Misalnya, ”Kenapa kok milih jurusan IPA, Kak/Dik?”
– Tunjukkan bakat atau potensi anak menurut mom-dad. Sebab, siapa tahu anak belum mengenali bakat dan potensinya. Misalnya, ”Kemarin Kakak jago banget olimpiade akuntansi ya. Kalau itu Kakak pelajari lebih dalam, bisa jadi master akuntansi.”
– Ingatkan risiko. Setelah tahu keinginan anak, orang tua tetap perlu memberikan pemahaman risiko. ”Pilihan apa pun yang Kakak ambil, risiko tetap ada ya. Hadapi, Kakak pasti bisa. Ada mama-papa juga. Oke, Kak?”(tur)



