
Selain itu, ratusan benda yang berasal dari Kerajaan Lombok turut dikembalikan bersama dengan sebilah keris dari Kerajaan Klungkung, Bali. Objek dari Puri Cakranegara, Lombok, itu sebelumnya tersimpan di Tropenmuseum. Sedangkan keris Puputan Klungkung sejak lama menjadi koleksi Museum Volkenkunde, Leiden.
Sejarawan sekaligus aktivis pelestarian sejarah dan budaya Asep Kambali menjelaskan, artefak yang dikembalikan ke Indonesia itu semula dipajang di berbagai museum di Belanda.
Jadi, nanti ketika tiba di Indonesia, semestinya juga ditampilkan atau dipajang di museum. Supaya bisa dinikmati dan dipelajari oleh masyarakat.
Menurut Asep, yang terpenting adalah membangun narasi setiap artefak. Dengan narasi yang baik dan sesuai dengan fakta sejarah. ’’Apa sejarahnya, apa pentingnya untuk Indonesia,’’ tuturnya.
Ia menjelaskan, saat ini Museum Nasional sudah memiliki space yang luas. Apalagi, sudah dilakukan pembangunan gedung di bagian belakang. Diharapkan, Museum Nasional mampu menampilkan koleksi-koleksi yang bakal dikembalikan dari Belanda itu.
Asep menuturkan, Museum Nasional memiliki PR besar yang harus dituntaskan. Koleksi Museum Nasional saat ini sangat banyak. Bahkan, ada yang dipajang mepet-mepet dan tidak dilengkapi narasi atau keterangan.
Tugas lainnya adalah soal keamanan. Sebab, beberapa tahun lalu, ada kasus pencurian koleksi emas peninggalan kerajaan Mataram Kuno di Museum Nasional. Sayang, meski sudah berjalan bertahun-tahun, kasus itu belum bisa diungkap oleh kepolisian. ’’Masak polisi tidak bisa menangani kasus ini,’’ ucapnya.
Ia berharap Museum Nasional bisa memperkuat sistem keamanannya. Mulai dari CCTV hingga petugas penjaga museum. Jangan sampai ketika nanti ratusan artefak bersejarah tiba di Indonesia dan dipajang di museum, justru hilang seperti kasus emas peninggalan Mataram Kuno itu. (*/tur)



