
Diakui Karin, awalnya, ia berpikir jika dinikahi laki-laki kaya itu enak. Tak perlu memikirkan materi, nggak usah bekerja, ingin beli apa saja bisa dituruti. “Awalnya, pikiran saya seperti itu. Siapa sih perempuan yang nggak matrek. So, enak kan kalau punya suami berduit. Semua bisa dituruti, tinggal minta saja,” ungkapnya.
Soal materi yang semuanya dipenuhi Donwori memang didapatkan Karin. Tidak hanya cukup, tapi berlebih-lebih. “Saya sebulan mau ngabisin berapa pun, Mas Wori nggak pernah nanya. Tinggal nggesek saja,” sambungnya.

Tapi, ternyata ketidakpedulian Donwori itu ada alasannya. Tidak serta merta karena saking sayang dan cintanya pada Karin. “Karena Mas Wori juga punya kesenangan sendiri. Kesenangan itulah yang membuat saya merasa tak sanggup lagi meneruskan peran sebagai istri,” paparnya.
Donwori ternyata suka ‘njajan’ di luar. Tempat hiburan malam yang menawarkan ‘kesenangan’, menjadi tempat tujuan Donwori. Sebulan bisa empat kali. “Itu sudah berlangsung sejak lama. Setahun terakhir ini saja berhenti karena ada corona. Cobak kalau nggak ada, ya makin menggila. Apalagi Mas Wori duitnya kan banyak,” celotehnya.



