Dirtipidnarkoba Bareskrim Kerahkan Tim ke Katingan: Cari Anggota Hilang, Siapkan Perburuan Jaringan BIO

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Operasi pemberantasan peredaran gelap narkotika di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) memakan korban jiwa dari korps baju cokelat. Sebuah penggerebekan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, berakhir tragis.
Seorang personel kepolisian, Aipda Yudhie Perdana Putra, gugur saat menjalankan tugas mulia melindungi masyarakat dari bahaya narkotika. Merespons peristiwa berdarah ini, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri langsung turun tangan untuk mem-back up penuh penanganan kasus di lapangan.

Kronologi Penggerebekan Berdarah di Katingan
Insiden bermula saat jajaran Satresnarkoba Polres Katingan menerima laporan dari masyarakat mengenai maraknya peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Menindaklanjuti informasi tersebut, polisi membidik seorang target operasi (TO) utama berinisial BIO, yang dikenal sebagai residivis kambuhan dalam kasus narkotika.
Untuk membekuk target, Polres Katingan menerjunkan 12 personel yang dibagi ke dalam dua tim strategis:
Tim Pertama: Bertugas melakukan penindakan langsung di rumah target.
Tim Kedua: Bersiaga di titik lain sebagai unsur pendukung dan pengamanan situasi.
Dikepung Massa Bersenjata Tajam dan Senpi Rakitan
Meski target BIO berhasil diamankan, situasi di lapangan mendadak berubah mencekam. Beberapa orang di dalam rumah beserta sekelompok warga sekitar melakukan perlawanan brutal menggunakan senjata tajam.
Situasi kian tidak terkendali ketika massa yang datang terus bertambah. Tidak hanya senjata tajam, sebagian dari massa bahkan nekat menggunakan senjata api (senpi) rakitan untuk menyerang petugas. Kalah jumlah dan ruang gerak, para personel polisi terpaksa menyelamatkan diri dengan menyeberangi sungai demi berlindung di dalam kawasan hutan.
“Dalam insiden tersebut, Aipda Yudhie ditemukan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam. Sementara Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana masih dalam pencarian oleh tim gabungan,” ujar Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, Jumat (3/7/2026).
Bareskrim Polri Turun Tangan dan Kirim Bantuan penuh
Tragedi ini memantik atensi serius dari markas besar kepolisian pusat. Brigjen Eko Hadi Santoso menegaskan bahwa personel Bareskrim Polri telah dikerahkan ke Kalteng untuk membantu jajaran Polda Kalteng dan Polres Katingan secara maksimal.
Ada tiga fokus utama yang kini tengah dijalankan oleh tim gabungan di lapangan:
Pencarian Anggota yang Hilang: Memaksimalkan penyisiran untuk menemukan Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana yang dilaporkan hilang pasca-insiden sungai.
Pengamanan Wilayah: Memulihkan kondusifitas keamanan di Desa Tumbang Kalemei dan sekitarnya agar tidak terjadi konflik susulan.
Pengungkapan Tuntas Jaringan: Memburu seluruh pelaku penyerangan aparat serta membongkar jaringan narkoba yang menyokong tersangka BIO.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra. Kami pastikan penegakan hukum terhadap bandar narkoba di Kalteng berjalan maksimal,” tegas jenderal bintang satu tersebut.
Evaluasi Total Operasi Pemberantasan Narkoba
Gugurnya personel di medan tugas menjadi pukulan telak sekaligus bahan evaluasi mendalam bagi Polri. Mengantisipasi kejadian serupa, Bareskrim Polri menyatakan akan merombak dan mengevaluasi SOP (Standard Operating Procedure) penindakan kasus narkoba di lapangan.
Menurut Brigjen Eko, ke depan setiap operasi harus direncanakan secara jauh lebih matang demi menjamin keselamatan petugas tanpa mengurangi ketegasan hukum.
Poin Utama Evaluasi Manajemen Operasi Polri:
Pemetaan Potensi Ancaman: Analisis mendalam mengenai karakteristik wilayah dan tingkat kerawanan resistensi warga lokal.
Kekuatan Personel & Perlengkapan: Penyesuaian jumlah personel di lapangan serta pemenuhan aspek perlengkapan taktis pertahanan diri yang memadai.
Skema Mitigasi Darurat: Mematangkan jalur evakuasi jika situasi di lapangan berubah menjadi kontingensi (darurat).
Polri menegaskan tidak akan mundur sejengkal pun dalam memerangi narkoba. Kematian Aipda Yudhie Perdana Putra menjadi momentum bagi kepolisian untuk menindak tegas siapapun bandar maupun pihak-pihak yang mencoba melindungi peredaran barang haram tersebut di tanah air. (*/tur)



