
KALTENG.CO-Gerhana Matahari kembali bisa disakasikan langsung dari Indonesia. Fenomena alam yang terjadi pada tanggal 20 April 2023 disebut Gerhana Matahari Hibrida.
Sesuai namanya, Gerhana Matahari Hibrida adalah peristiwa Gerhana Matahari yang memiliki dua macam gerhana berbeda yang terjadi dalam satu waktu.

Dimulai dengan Gerhana Matahari Cincin, dilanjutkan Gerhana Matahari Total, kemudian kembali Gerhana Matahari Cincin.
Yang menarik adalah peristiwa ini bisa disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Selain di Tanah Air, Gerhana Matahari Hibrida ini juga bisa disaksikan di Amerika Serikat, sebagian Amerika Tengah, Kolombia dan Brasil.
Terkait fenomena alam yang terbilang langka ini, sayangnya beredar hoaks di masyarakat yang mengaitkan peristiwa Gerhana Matahari yang terjadi dua hari jelang Lebaran Idul Fitri dengan jatuhnya Hari Raya tersebut.
Hoaks ini banyak beredar di platform perpesanan instan di masyarakat. “Pada tanggal 20 April 2023 akan terjadi gerhana matahari di Indonesia. gerhana matahari merupakan salah 1 dari beberapa tanda alamiah yang bisa disaksikan oleh semua orang tentang berakhirnya bulan tua dan mulainya bulan baru dalam tarikh qomariah,” demikian bunyi narasi yang viral di media sosial (medsos) itu.
Narasi tersebut melanjutkan kalau pada tanggal 20 april 2023, prosesi Gerhana akan dimulai pk 08:34 WIB, Gerhana gelap maximum pada pukul 11:16 WIB dan seluruh prosesi Gerhana Matahari ini akan berakhir pada pukul 13:59 WIB.
“Tanda alam di atas sudah cukup bahwa tanggal 20 april 2023 merupakan akhir dari bulan Ramadan 1444 Hijriah. Senja harinya sudah memasuki 1 Syawal 1444 Hijriah. Australia dan Arab Saudi pasti akan mengakhiri bulan ramadhan pada tanggal 20 april 2023,” lanjut narasi tersebut.
Menanggapi beredarnya pesan tersebut, Peneliti Astronomi dan Astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Thomas Djamaluddin membantah kebenarannya. Melalui unggahannya di blog pribadinya, dirinya menjelaskan bahwa Gerhana Matahari memang menunjukkan ijtimak (konjungsi) telah terjadi. Ijtimak adalah Bulan baru (newmoon) astronomi. Namun, ini bukan pertanda awal bulan Hijriah.
“Kalau ijtimak dianggap sebagai awal bulan, mestinya mereka yang berpendapat seperti itu mulai puasa pada 22 Maret 2023. Saat itu, ijtimak terjadi pada 22 Maret 2023 pukul 00.23 WIB. Jadi saat shubuh 22 Maret mestinya mereka anggap sudah Ramadhan. Nyatanya semua berpuasa mulai 23 Maret,” terang Thomas.
Dirinya secara gamblang menyebut kalau informasi Gerhana jadi penanda berakhirnya Ramadan adalah informasi yang menyesatkan. Menurut eks Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu, Gerhana Matahari sebagai kondisi ijtimak memang menunjukkan akhir siklus bulan mengitari bumi.
“Tetapi itu tidak bisa dijadikan dasar penentuan bulan baru Hijriah. Secara hukum (fikih), dasar penetapan bulan baru hijriyah harus berdasarkan pengamatan atau posisi bulan saat maghrib,” tegas Thomas. (*/tur)



