
Gadget tersebut kemudian bisa dipinjamkan pada siswa untuk PJJ. Pada bagian lain, Retno menyebut PJJ semakin berdampak nyata pada siswa. Mulai dari potensi putus sekolah hingga pernikahan dini. Retno mengungkapkan, ketika PJJ berlangsung, banyak siswa memilih bekerja membantu ekonomi keluarga karena orangtua kehilangan pekerjaan. Ketika anak bekerja, maka secara otomatis berhenti sekolah.
Lalu, ada pula yang memutuskan menikah. Hal ini ditemui saat KPAI melakukan pengawasan penyiapan buka sekolah di masa pandemi pada 8 provinsi (seluruh provinsi di Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bengkulu). Dari sana, ternyata beberapa kepala sekolah curhat bahwa ada peserta didiknya yang putus sekolah. Alasannya beragam. Mulai dari tidak memiliki alat daring, tidak mampu membeli kuota internet hingga membuat mereka tidak mengikuti PJJ berbulan-bulan. Akhirnya, memutuskan bekerja atau menikah.
”Dari temuan KPAI, ada 119 peserta didik yang menikah, laki-laki maupun perempuan, usianya beriksar 15-18 tahun,” ujarnya. Selain itu, PJJ juga berpotensi membuat peserta didik tidak naik kelas dengan sejumlah alasan. Salah satunya, tidak tuntas pembelajaran dan tugas yang diberikan.
Seperti yang terjadi di Kota Cimahi. Sempat beredar pemberitaan bahwa ada ribuan siswa terancam tidak naik kelas. Setelah ditelusuri oleh KPAI, sebetulnya hanya rapor yang tidak bisa diserahkan lantaran tugas belum rampung. Saat diobservasi, ternyata siswa memiliki masalah dengan alat daring, kuota internet, dan wilayah blank spot. Dari keterangan yang diperoleh KPAI, ada sekitar 633 siswa SMP di kota Cimahi yang tidak memiliki alat daring.
Sementara, 2.508 menggunakan HP milik orangtua dan 18.048 siswa punya atas kepemilikan sendiri. Untuk mengurai persoalan tersebut, menurut Retno, Dinas Pendidikan Kota Cimahi dan para guru di Kota Cimahi tetap melayani peserta didik yang kesulitan PJJ daring dengan guru kunjung. Selain itu, orangtua diminta mengambil soal dan materi ke sekolah.
”Bahkan ada guru yang bersedia ke sekolah setiap hari untuk mengajari 3 siswanya di sekolah karena tidak memiliki alat daring,” paparnya.



