Investasi Industri Hijau: Kunci Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan dan Lapangan Kerja Masa Depan

KALTENG.CO-Industri hijau bukan sekadar tren, melainkan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja yang masif di masa depan.
Di tengah tantangan perubahan iklim global, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pemimpin dalam ekonomi hijau, asalkan investasi yang memadai dapat terpenuhi.
Potensi Besar Industri Hijau Indonesia: PDB dan Penyerapan Tenaga Kerja
Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti angka-angka yang sangat menjanjikan dari sektor ini. Industri hijau diproyeksikan mampu menyerap hingga 1,7 juta tenaga kerja pada tahun 2045. Selain itu, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan mencapai Rp638 triliun pada tahun 2030.
Program Manager Dekarbonisasi Industri IESR, Juniko Nur Pratama, menegaskan bahwa potensi gemilang ini hanya bisa terwujud jika investasi yang cukup dialokasikan untuk sektor industri hijau. “Dengan investasi memadai, industri hijau dapat mengakselerasi pertumbuhan,” ujar Juniko.
Jalan Menuju Target NDC 2030: Menutup Kesenjangan Investasi
Untuk mencapai target ambisius dalam Nationally Determined Contribution (NDC) 2030, Indonesia membutuhkan investasi sebesar USD 285 miliar. Sayangnya, masih ada defisit investasi sebesar USD 146,43 miliar yang harus ditutup. Ini menunjukkan urgensi bagi pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan untuk berkolaborasi dalam menarik dan mengalirkan dana ke industri hijau.
Berikut gambaran kebutuhan investasi untuk industri hijau di Indonesia:
| Keterangan | Kisaran Nilai (USD miliar) |
| Dana dari sektor keuangan | 41,67 |
| Dana dari anggaran perubahan iklim | 96,90 |
| Total kebutuhan | 285 |
| Defisit/gap investasi yang dibutuhkan | 146,43 |
Ekspor ke Spreadsheet
Lima Pilar Utama Transisi Menuju Emisi Nol di Sektor Industri
Juniko Nur Pratama dari IESR juga menggarisbawahi lima pilar krusial yang harus diimplementasikan untuk mendukung transisi menuju emisi karbon nol (Net Zero Emissions/NZE) di sektor industri:
- Dekarbonisasi Ketenagalistrikan: Beralih ke sumber energi listrik yang lebih bersih dan terbarukan.
- Substitusi Bahan Bakar dengan Energi Ramah Lingkungan: Mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan seperti biomassa atau hidrogen hijau.
- Peningkatan Efisiensi Energi: Mengoptimalkan penggunaan energi dalam proses produksi untuk mengurangi pemborosan.
- Efisiensi Penggunaan Sumber Daya: Menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan mengurangi limbah dalam seluruh rantai produksi.
- Pemanfaatan Teknologi Ramah Lingkungan dan Penangkapan Karbon (CCUS): Menggunakan inovasi teknologi untuk mengurangi emisi dan menangkap karbon yang dihasilkan.




