BeritaFAMILYLife StyleMETROPOLIS

Nalar Kritis di Era Post-Truth: Senjata Utama Gen Z Melawan Banjir Informasi dan Manipulasi Digital

KALTENG.CO-Di tengah gelombang informasi digital yang kian deras dan kompleks, kemampuan untuk berpikir kritis menjadi sebuah keharusan, terutama bagi Generasi Z.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyerukan pentingnya membangkitkan kembali nalar kritis ini, mengingat ancaman manipulasi yang kian nyata di era post-truth.

“Melawan post-truth sebetulnya simpel saja, hidupkan kembali critical thinking atau pemikiran kritis kita. Kuncinya, jangan cepat percaya dengan informasi yang kelihatannya begitu mudah,” kata Nezar Patria di Kantor Kominfo, dikutip pada Selasa (22/7/2025).

Mengapa Nalar Kritis Begitu Penting di Era Digital?

Era digital membawa kemudahan akses informasi, namun juga membuka celah bagi penyebaran hoaks, disinformasi, dan konten manipulatif. Tantangan ini diperparah dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini mampu menciptakan konten visual dan video yang sangat meyakinkan, bahkan bisa mengecoh mata telanjang.

Nezar Patria menyoroti bagaimana AI dapat menciptakan sosok manusia yang tidak pernah ada, namun terlihat sangat nyata dan mirip dengan individu dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Ini menjadi peringatan serius akan potensi penyalahgunaan AI.

“Bahkan bisa menciptakan sosok manusia yang tidak pernah eksis di dunia, padahal rupanya mirip orang Manado, orang Palembang, orang Jawa, dan sebagainya. Tapi itu (wajah manusia dalam karya AI) tidak pernah ada,” jelas Nezar.

Ancaman Serius AI dalam Masyarakat Pluralis

Wamenkomdigi juga memperingatkan dampak serius apabila AI disalahgunakan, terutama di negara dengan keberagaman seperti Indonesia. Manipulasi identitas, khususnya yang meniru tokoh-tokoh penting seperti tokoh agama, dapat memicu kerusuhan dan ketegangan sosial.

“Yang paling celaka kalau (AI) meniru tokoh-tokoh agama kemudian mengucapkan sesuatu yang mungkin bisa memancing kerusuhan, ketegangan, pertikaian. Nah itu yang paling berbahaya dan potensial terjadi di negara pluralis seperti kita,” ujar Nezar.

Oleh karena itu, kemampuan menganalisis dan memverifikasi informasi menjadi sangat vital. Gen Z, sebagai generasi yang tumbuh besar dengan teknologi, memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga filter yang cerdas.

Bijak Bermedia Sosial: Hindari Komentar Impulsif dan Perundungan Daring

Selain mengonsumsi informasi, Gen Z juga didorong untuk lebih bijak dalam memproduksi konten dan berinteraksi di media sosial. Nezar Patria mengingatkan agar menghindari komentar impulsif dan tindakan perundungan daring (cyberbullying) yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental.

“Jangan biasakan diri kita asal jeplak. Tonton film-film soal cyberbullying, bagaimana pengaruh media sosial terhadap mental wellness anak-anak muda. Jadi hati-hati dalam mengonsumsi informasi, juga hati-hati dalam memproduksinya, dan gunakan critical thinking,” tandas Nezar Patria.

Penggunaan nalar kritis tidak hanya tentang melindungi diri dari informasi salah, tetapi juga tentang bertanggung jawab dalam setiap jejak digital yang kita tinggalkan.

Dengan membiasakan diri berpikir kritis, Gen Z dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan ruang digital yang lebih sehat, aman, dan informatif bagi semua. (*/tur)

Related Articles

Back to top button