Jaga Stabilitas Komoditas Kelapa Sawit di Tingkat Petani, Disbun Kalteng Evaluasi Harga TBS Per Dua Pekan

PALANGKA RAYA, Kalteng.co-Saat ini kelapa sawit menjadi salah satu komoditas andalan masyarakat di Bumi Tambun Bungai, Kalteng. Pertumbuhan petani kelapa sawit dalam beberapa dekade belakangan cenderung meningkat, baik petani yang bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar swasta (PBS) kelapa sawit maupun petani mandiri.
Kondisi ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah di tingkat daerah terhadap iklim investasi dan usaha dalam sektor perkebunan ini. Salah satunya adalah dengan berupaya menjaga stabilitas harga TBS di tingkat petani.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kalteng H.Rizky Ramdhana Badjuri,ST, MT mengatakan, stabilitas harga di kalangan petani ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian masyarakat. Terlebih di tengah gejolak ekonomi global saat ini.
“Karena harga komoditas kelapa sawit ini ditentukan oleh fluktuasi harga tukar dolar terhadap rupiah, makanya agar stabilitas harga ini benar-benar termonitor dengan baik Disbun Provinsi Kalteng selalu mengevaluasi harga jual TBS per dua pekan,”kata Kadisbun Kalteng kepada awak media di usai Rapat Penetapan Harga Pembelian TBS Kelapa Sawit Mitra Provinsi Kalteng di Aula Disbun pada Kamis (18/6/2026).
Ia menambahkan, penetapan harga pembelian TBS ini melibatkan seluruh PBS di Kalteng dan petani mitra perkebunan maupun swadaya. Dalam hal ini harga ditetapkan berdasarkan sumber data produksi dan penjualan yang terima dari PBS dan petani mitra tersebut.
Selain itu, lanjut Rizky, pentingnya stabilisasi harga ini juga untuk mengantisipasi permainan harga oknum pengepul yang telah bermitra langsung dengan pihak PBS. Mereka ini biasanya menjadi tempat para petani yang tidak bermitra untuk menjual TBS hasil produksinya.
“Berdasarkan hasil rapat hari ini, harga TBS ditetapkan untuk petani mitra adalah Rp3500,- per Kg, sedangkan petani non swadaya adalah Rp3200,- per Kg,”tukas Kadisbun seraya berharap harga ini juga menjadi pedoman para pengepul atau peron dalam membeli TBS dari petani non mitra.
Di tempat sama, Jahriansyah petani Mitra PT Kery Sawit Indonesia (Wilmar Group) mengharapkan, stabilisasi harga jual TBS di tingkat petani dapat diperhatikan pula oleh pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan.
“Selama ini banyak alasan dari oknum-oknum pengepul atau peron yang bekerjasama dengan PKS agar harga TBS di tingkat petani ditekan rendah, padahal secara umum tidak ada permasalahan serius,”ungkap Jahriansyah seraya berharap agar program-program pembinan terhadap petani sawit swadaya juga tetap ditingkatkan.
Selain dihadiri oleh perwakilan PBS dan petani swadaya yang ada di wilayah kalteng, rapat penetapan harga kelapa sawit ini juga dihadiri oleh perwakilan dari GAPKI Provinsi. (*/tur)



